Iklan Internal Kiriman Naskah

Muslimat NU Gedor PBB Soal Perang Timur Tengah, Dunia Jangan Diam Saat Anak dan Perempuan Dibantai

Muslimat NU Gedor PBB Soal Perang Timur Tengah, Dunia Jangan Diam Saat Anak dan Perempuan Dibantai

Muslimat NU desak PBB hentikan perang Timur Tengah dan lindungi anak serta perempuan dari dampak konflik yang makin brutal.-Foto: Dok. Muslimat NU-

JAKARTA, PostingNews.id — Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa angkat suara keras di tengah konflik Timur Tengah yang makin brutal. Ia tak tinggal diam melihat dampak perang yang terus menelan korban sipil, terutama anak-anak dan perempuan.

Di sela peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU di Yogyakarta, Minggu, 12 April 2026, Khofifah menyatakan organisasinya akan mengirim surat resmi ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Langkah ini disebut sebagai bentuk tekanan moral agar dunia internasional tidak sekadar jadi penonton.

“Kami dari Muslimat NU akan bersurat mendesak PBB dapat menggunakan power-nya untuk melindungi anak dan perempuan atas dampak perang itu,” ujar Khofifah.

Konflik yang melibatkan koalisi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran hingga April 2026 disebutnya sudah masuk fase mengkhawatirkan. Memasuki bulan kedua, korban sipil terus bertambah dan situasi makin tak terkendali.

Khofifah menilai dunia tak boleh lagi pasif. Organisasi internasional seperti PBB diminta benar-benar turun tangan untuk menghentikan perang yang dampaknya kian luas.

BACA JUGA:Prabowo Cabut dari Pencak Silat, Kursi IPSI Jatuh ke Tangan Sugiono

Menurut dia, langkah Muslimat NU ini bukan sekadar reaksi spontan. Ada pijakan kuat yang melandasi, mulai dari nilai agama hingga komitmen global. Prinsip perlindungan nyawa dalam Maqashidus Syariah, amanat konstitusi untuk menjaga ketertiban dunia, hingga kesepakatan internasional soal perlindungan perempuan dalam konflik bersenjata menjadi dasar dorongan tersebut.

Surat yang akan dikirim juga memuat sejumlah poin krusial. Salah satu yang utama adalah mendesak PBB menggunakan kekuatannya untuk menghentikan perang dan menjamin hak-hak dasar manusia di wilayah konflik.

“Terutama perlindungan bagi perempuan, anak-anak, serta akses terhadap kesehatan dan pendidikan di wilayah konflik,” kata dia.

Ia menegaskan, isu kemanusiaan ini bukan hal baru. Selama dua tahun terakhir, wacana tentang pentingnya meredam kekerasan sudah dibahas, mulai dari level rumah tangga hingga konflik global.

BACA JUGA:Gibran Lempar Hakim Ad Hoc, Komnas HAM Bilang Oke Tapi Koalisi Ngegas Minta TGPF

Namun realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Kekerasan terus berulang dan korban sipil terus berjatuhan.

“Kami berharap Sekjen PBB melalui kekuatannya benar-benar bekerja dan bisa menghentikan perang dan mewujudkan perdamaian dunia,” ujarnya.

Bagi Khofifah, dorongan ini bukan sekadar sikap politik, melainkan bagian dari upaya menjaga nilai kemanusiaan. Ia menilai pendekatan moderasi, toleransi, dan keadilan harus tetap dijaga di tengah situasi dunia yang makin panas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share