Jusuf Kalla Ungkap Alasan Prabowo Irit Komentar soal Iran
Jusuf Kalla menilai Presiden Prabowo tidak banyak bicara soal Iran karena Indonesia terikat perjanjian dagang dengan Amerika Serikat.-Foto: Antara-
JAKARTA, PostingNews.id — Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai sikap Presiden Prabowo Subianto yang tidak banyak berbicara mengenai konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berkaitan dengan posisi Indonesia dalam hubungan dagang dengan Washington. Menurut Kalla, adanya kesepakatan perdagangan membuat ruang gerak pemerintah menjadi lebih terbatas ketika harus bersikap terhadap perang tersebut.
Pandangan itu disampaikan Kalla dalam wawancara dengan awak media setelah ia menghadiri pertemuan di Istana Kepresidenan Jakarta. Pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa malam 3 Maret 2026. Presiden Prabowo mengundang sejumlah tokoh negara, termasuk mantan presiden dan mantan wakil presiden.
Sejumlah pemimpin redaksi media nasional yang mewawancarai Kalla awalnya menanyakan apakah dalam forum itu Prabowo memperlihatkan perubahan sikap terkait keanggotaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace. Organisasi tersebut merupakan inisiatif Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertanyaan itu muncul setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran.
Menanggapi hal itu, Kalla mengatakan Prabowo tidak banyak memberikan pernyataan tentang konflik tersebut. Ia menilai posisi Indonesia saat ini dipengaruhi oleh kesepakatan ekonomi yang sudah terjalin dengan Amerika Serikat.
BACA JUGA:Konflik Global Memanas, Pemprov DKI Pastikan Stok Pangan Jakarta Tetap Aman Jelang Ramadan
“Karena Indonesia, Presiden, sudah terikat dengan perjanjian dengan Amerika Serikat, yang banyak pihak termasuk saya itu menilai terlalu berpihak atau memberikan hak ke Amerika terlalu banyak dibanding kita,” kata Kalla kepada wartawan, Rabu 4 Maret 2026.
Menurut Kalla, perjanjian dagang yang berkaitan dengan tarif membuat Indonesia tidak leluasa menyampaikan sikap terhadap konflik yang melibatkan Amerika Serikat. Dalam pandangannya, kesepakatan tersebut memiliki konsekuensi politik yang tidak kecil.
“(Perjanjian) itu mengikat, sehingga beliau tidak banyak memberikan komentar tentang Iran, karena dalam perjanjian itu Indonesia harus ikut kebijakannya Amerika, tidak bisa bertentangan dengan Amerika,” ujarnya.
Dalam forum pertemuan dengan para tokoh negara di Istana, Kalla juga menyampaikan pandangannya secara langsung kepada Prabowo. Ia mengatakan Indonesia tidak perlu terlalu khawatir terhadap kebijakan tarif yang diterapkan Amerika Serikat. “Dalam tanya jawab saya sampaikan, jangan karena tarif itu kita terlalu ikut Amerika,” kata dia.
BACA JUGA:Anies Desak Indonesia Keluar BoP usai Serangan AS–Israel ke Iran
Kalla berpendapat kebijakan tarif dari Amerika Serikat sebenarnya tidak terlalu menentukan bagi Indonesia. Menurut dia, tarif tersebut pada akhirnya akan dibayar oleh importir dan konsumen di Amerika, bukan oleh Indonesia.
Selain soal tarif, Kalla juga menyoroti beberapa ketentuan nontarif yang terdapat dalam perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat. Ia menilai beberapa poin dalam kesepakatan itu dapat memengaruhi independensi Indonesia dalam mengambil sikap politik internasional.
“Kita harus ikut politik Amerika, ini yang terjadi. Karena Amerika menyerang Iran, Indonesia tidak boleh mengecam Amerika. Kita tidak merdeka jadinya,” ucap Kalla.
Pertemuan di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa malam 3 Maret 2026 itu membahas perkembangan situasi geopolitik, terutama eskalasi konflik di kawasan Teluk. Presiden Prabowo memaparkan situasi terbaru kepada para tokoh yang hadir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News