Jumlah Investor Tembus 20 Juta, Waspada Jebakan Saham Gorengan di Pasar Modal
Ilustrasi saham.-ilustrasi-
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Partisipasi investor ritel di pasar modal terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Di balik tren itu, risiko terjebak pada saham gorengan masih membayangi, terutama bagi investor yang belum memahami karakter pergerakan saham berisiko tinggi.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan jumlah investor baru sepanjang 2025 mencapai 5,34 juta orang. Penambahan tersebut membuat total Single Investor Identification atau SID di pasar modal menembus 20,2 juta pada periode yang sama. Angka ini menandai meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi saham.
Namun, pertumbuhan jumlah investor tidak selalu diiringi pemahaman memadai mengenai risiko perdagangan saham. Harga saham yang melonjak cepat sering kali tampak menarik, tetapi justru menyimpan potensi kerugian besar jika tidak ditopang kinerja perusahaan yang sehat.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan saham gorengan umumnya memiliki pola pergerakan yang tidak wajar.
Salah satu cirinya adalah praktik pump and dump, ketika harga saham naik tajam dalam waktu singkat tanpa dukungan fundamental, lalu jatuh drastis setelah pelaku utama melepas kepemilikan.
BACA JUGA:Kabar Baik! Kenaikan UMP 2026 Dongkrak Gaji Peserta Program Magang Nasional, Berapa Besarannya?
Lonjakan harga tersebut kerap memanfaatkan psikologi fear of missing out atau FOMO di kalangan investor ritel yang khawatir tertinggal momentum kenaikan.
“Pump and dump, harga saham tiba-tiba menguat signifikan, kemudian tiba-tiba menurun signifikan,” ujar Nafan saat dihubungi, Minggu 15 Februari 2026.
Selain itu, terdapat praktik volume semu atau wash sales. Aktivitas transaksi terlihat ramai di papan perdagangan, tetapi sesungguhnya dilakukan oleh pihak yang sama melalui sejumlah akun berbeda yang berada dalam satu kendali. Pola ini menciptakan kesan saham memiliki likuiditas tinggi sehingga menarik minat investor lain untuk ikut membeli.
“Volume semu, transaksi jual-beli yang dilakukan oleh pihak yang sama (akun berbeda namun satu kendali) untuk menciptakan kesan saham tersebut sangat likuid dan diminati,” paparnya.
Ciri lain yang kerap muncul adalah praktik painting the tape. Pelaku berupaya mendorong harga menjelang penutupan perdagangan agar grafik terlihat positif. Pergerakan harga biasanya tipis, namun cukup untuk membangun persepsi bahwa saham berada dalam tren penguatan.
BACA JUGA:Gelombang Pengunduran Diri Pejabat Sumut, Bobby Nasution Bersyukur
Saham gorengan juga sering bergantung pada narasi yang berkembang di media sosial maupun promosi influencer. Perubahan harga lebih banyak dipicu rumor dan sentimen viral ketimbang laporan keuangan, arus kas, atau prospek bisnis yang terukur. Ketika narasi mereda, harga saham berisiko terkoreksi tajam.
“Ketergantungan pada narasi/influencer, di mana harga bergerak bukan karena laporan keuangan, tapi karena hembusan rumor di media sosial tanpa basis fundamental,” kata Nafan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News