Adegan Ranjang Richelle Skornicki dan Aliando Ramai di Media Sosial, Netizen: Tidak Cocok untuk Anak di Bawah Umur!
Adegan 'Panas' Aliando dan Richelle Diprotes Warganet-Ilustrasi-
JAKARTA, PostingNews.id - Perdebatan tentang etika produksi tayangan remaja kembali mencuat setelah serial berjudul Pernikahan Dini Gen Z ramai dibicarakan di media sosial. Sorotan muncul di tengah meningkatnya kepekaan publik terhadap isu child grooming di industri hiburan Indonesia.
Perhatian publik menguat setelah pengalaman pribadi Aurelie Moeremans kembali dibicarakan. Pengakuan tersebut membuka kembali diskusi tentang relasi tidak setara yang kerap luput dari pengawasan industri.
Serial tersebut menempatkan Richelle Skornicki sebagai pemeran utama perempuan. Usianya masih 16 tahun. Ia dipasangkan dengan Aliando Syarief yang berusia 29 tahun.
Perbedaan usia itu memicu respons keras. Richelle masih masuk kategori anak di bawah umur. Publik menilai keputusan casting tersebut memerlukan pertimbangan etik yang lebih ketat.
Kontroversi tidak hanya berhenti pada usia. Cerita yang diangkat serta dinamika hubungan para pemerannya ikut menjadi sorotan. Dalam serial, keduanya digambarkan menjalin relasi romantis yang intens.
BACA JUGA:Cara Timothy Ronald Bikin Korban Tergiur Ikut Member Kripto, Janjikan Profit hingga 500 Persen
Situasi menjadi semakin sensitif ketika Richelle dan Aliando mengakui menjalin hubungan asmara di luar layar. Fakta ini membuat batas antara fiksi dan realitas dinilai semakin kabur.
Sejumlah warganet menilai kondisi tersebut berisiko menormalisasi relasi bermasalah. Terutama ketika disajikan dalam ruang publik tanpa pembacaan kritis yang memadai.
Aliando sempat memberikan klarifikasi. Ia menyebut hubungan mereka berjalan secara alami dan tidak dibentuk untuk kepentingan promosi. Pernyataan itu disampaikan untuk meredam spekulasi publik.
Namun kritik tetap bergulir. Perhatian kemudian bergeser ke isi tayangan. Beberapa adegan dinilai terlalu intim untuk diperankan oleh aktor di bawah umur. Penilaian tersebut muncul setelah potongan adegan beredar luas di media sosial.
Karakter Dini yang dimainkan Richelle diceritakan hamil di luar nikah. Alur ini menghadirkan visual yang menyiratkan hubungan suami istri. Sejumlah adegan ranjang ditampilkan. Publik mempertanyakan urgensinya terhadap jalannya cerita.
BACA JUGA:Fantastis! Pelapor Timothy Ronald Ungkap Kerugian Capai Rp3 Miliar
Meski tidak menampilkan visual eksplisit, adegan tersebut dianggap melampaui batas kewajaran. Terutama untuk serial yang menyasar penonton muda.
Warganet menilai visual seperti itu berpotensi menimbulkan asumsi keliru. Narasi fiksi dan pengawasan produksi dinilai tidak cukup menjadi pembenaran.
"Terlepas dari si cewek masih di bawah umur, adegan-adegan seperti ini sudah bisa membuat orang salah paham dan berasumsi yang tidak-tidak," komentar warganet.
Komentar tersebut mewakili kegelisahan publik. Banyak penonton menilai pesan moral dapat disampaikan tanpa menampilkan adegan intim.
Kritik juga diarahkan pada minimnya nilai edukatif. Adegan tersebut dinilai tidak memberi kontribusi signifikan terhadap pemahaman penonton tentang dampak pernikahan dini.
BACA JUGA:Cek di Sini! Link Download Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans
"Seharusnya sinetron atau series Indonesia tidak menormalisasi alur cerita seperti ini. Apalagi diperankan oleh anak di bawah umur," ujar warganet lainnya.
Sebagian penonton mempertanyakan fungsi dramatik adegan tersebut. Mereka menilai cerita semestinya lebih menekankan konsekuensi sosial dan psikologis.
Tanggapan MD Entertainment
Menanggapi polemik, pihak produksi menyatakan seluruh adegan dilakukan dengan pengawasan ketat. Pengawasan itu disebut melibatkan ibunda Richelle selama proses syuting.
Pemantauan dilakukan secara langsung melalui monitor. Setiap adegan sensitif diklaim mendapat persetujuan terlebih dahulu.
Namun bagi publik, persoalan ini tidak berhenti pada izin orang tua. Kritik menekankan bahwa tanggung jawab etik berada pada industri secara keseluruhan.
Isu ini kembali menegaskan tuntutan publik terhadap kehati-hatian dalam memproduksi tayangan remaja. Terutama ketika melibatkan anak di bawah umur dan tema relasi yang sensitif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News