Sering Menekan Jari hingga Bunyi "Kretek" Bikin Radang Sendi? Begini Penjelasan Dokter Bedah
Ilustrasi kretek ruas jari.--Foto: Pexels
JAKARTA, PostingNews.id - Membunyikan ruas jari hingga terdengar suara “kretek” adalah kebiasaan yang jamak ditemui. Di satu sisi, praktik ini sering dituding sebagai pemicu gangguan sendi. Di sisi lain, banyak orang meyakini bunyi tersebut tidak membawa dampak kesehatan apa pun. Jika merujuk pada temuan ilmiah, anggapan kedua justru lebih mendekati kesimpulan medis.
John Fernandez, dokter bedah ortopedi yang menangani tangan, pergelangan, dan siku di Rush University Medical Center, menyebut klaim bahwa meretakkan ruas jari dapat merusak sendi adalah mitos lama.
Ia menyamakan narasi itu dengan peringatan masa kecil seperti larangan menyilangkan mata karena bisa menetap selamanya. Ceritanya diwariskan luas, tetapi tidak pernah benar-benar ditopang bukti kuat.
Dari Mitos Medis ke Norma Sosial
Menurut Fernandez, citra buruk kebiasaan ini kemungkinan besar berakar dari etika sosial, bukan dari dunia medis. Alasannya terletak pada aspek paling sederhana, yakni bunyinya.
Bunyi tubuh kerap dianggap tidak pantas di ruang publik. Sendawa dan kentut menjadi contoh yang paling sering disebut.
BACA JUGA:Jangan Mau Dipalak, BI Tegaskan Konsumen Tak Boleh Dikenai Biaya Admin Saat Bayar QRIS
Meski tidak disertai bau, bunyi ruas jari tetap mengingatkan bahwa tubuh bekerja dengan cairan dan gas. Rasa tidak nyaman itu kemudian melahirkan penilaian moral, dari tidak sopan hingga dianggap pasti tidak sehat.
Struktur Ruas Jari dan Cairan Sendi
Secara anatomi, ruas jari merupakan sendi yang mempertemukan dua tulang. Ujung tulang tersebut dilapisi tulang rawan dan diselimuti membran yang berisi cairan sinovial. Cairan ini berfungsi sebagai pelumas agar pergerakan sendi tetap mulus.
Di dalam cairan sinovial terdapat gas yang terlarut, seperti oksigen, karbon dioksida, dan nitrogen. Keberadaan gas ini serupa dengan gas terlarut dalam darah manusia. Dalam kondisi normal, gas tersebut tidak menimbulkan bunyi apa pun.
Mekanisme Terbentuknya Bunyi Kretek
Bunyi muncul ketika seseorang menarik, menekuk, atau meregangkan jari dengan tujuan membunyikannya. Gerakan ini memperlebar jarak antar tulang di sendi sehingga tekanan di dalam sendi menurun.
Penurunan tekanan membuat gas yang semula larut di cairan sinovial keluar dan membentuk gelembung. Proses ini dikenal sebagai kavitasi. Prinsipnya mengikuti hukum fisika yang menyatakan bahwa kelarutan gas dalam cairan bergantung pada tekanan. Ketika tekanan turun, gas lebih mudah keluar. Analogi yang paling mudah adalah soda yang berbuih saat kemasannya dibuka.
BACA JUGA:Jadwal Layanan SIM Keliling Wilayah Jakarta 12 Januari 2026, Catat Lokasi, Syarat, dan Biayanya
Fenomena kavitasi juga dikenal dalam konteks lain, misalnya pada penyelam yang naik terlalu cepat ke permukaan. Dalam situasi ekstrem tersebut, gelembung gas dapat terbentuk di aliran darah dan menimbulkan bahaya. Namun, mekanisme yang terjadi pada ruas jari tidak bekerja dengan risiko serupa.
Benarkah Menyebabkan Arthritis
Isu paling sering diperdebatkan adalah kaitannya dengan arthritis. Hingga kini, tidak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa kebiasaan meretakkan ruas jari menyebabkan osteoarthritis atau bentuk radang sendi lainnya.
Sejumlah penelitian telah menelusuri dugaan tersebut selama puluhan tahun. Studi pada akhir 1940-an mendeskripsikan perubahan yang terjadi di sendi saat bunyi muncul. Penelitian pada 1970-an terhadap puluhan lansia yang rutin meretakkan ruas jari tidak menemukan hubungan yang konsisten dengan gangguan sendi.
Tinjauan literatur yang lebih mutakhir pada 2018 juga menyimpulkan hal serupa. Bukti yang tersedia tidak mendukung klaim adanya hubungan sebab akibat.
Salah satu contoh yang kerap dikutip datang dari Donald L. Unger. Selama lebih dari 60 tahun, ia secara sengaja meretakkan ruas jari tangan kiri dan membiarkan tangan kanan tanpa perlakuan serupa.
BACA JUGA:Gigi Mulai Terasa Longgar Saat Usia Dewasa? Waspada Pertanda Penyakit Serius
Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan kesehatan sendi di antara keduanya. Penelitian ini dipublikasikan pada 1998 di jurnal Arthritis & Rheumatism dan membawanya meraih Ig Nobel Prize pada 2009.
Efek yang Mungkin Terlihat
Jika tidak menyebabkan arthritis, apakah kebiasaan ini sepenuhnya tanpa dampak? Fernandez menjelaskan bahwa pada sebagian orang yang sangat sering meretakkan ruas jari, dapat terjadi penebalan ringan jaringan di sekitar sendi.
Perubahan ini membuat ruas jari tampak lebih besar atau sedikit membengkak, sehingga sekilas menyerupai radang sendi. Namun, perubahan tersebut bersifat kosmetik dan tidak berkaitan dengan kerusakan tulang rawan.
Arthritis sendiri terjadi akibat penipisan atau kerusakan tulang rawan, dan hal itu tidak terbukti dipicu oleh kebiasaan ini.
Kesimpulan Medis dan Catatan Sosial
Dari sisi kesehatan sendi, pesannya cukup jelas. Meretakkan ruas jari bukan kebiasaan yang terbukti berbahaya dan tidak terbukti menyebabkan arthritis.
Namun dari sudut pandang sosial, Fernandez menyelipkan catatan ringan. Kebiasaan ini sebaiknya dilakukan di ruang privat dan dihindari di tempat umum, karena bagi banyak orang, bunyinya tetap dianggap mengganggu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News