Gigi Mulai Terasa Longgar Saat Usia Dewasa? Waspada Pertanda Penyakit Serius
Ilustrasi gigi goyang.--Foto: Pexels
JAKARTA, PsotingNews.id - Anggapan bahwa gigi goyang adalah hal biasa masih melekat di sebagian masyarakat. Kondisi itu kerap diasosiasikan dengan masa kanak-kanak, ketika gigi susu tanggal dan digantikan gigi permanen. Namun, asumsi tersebut justru berisiko menyesatkan ketika kondisi gigi goyang terjadi pada orang dewasa.
Pada usia dewasa, gigi yang terasa longgar tanpa sebab jelas bukanlah proses alami. Tidak adanya benturan atau cedera seharusnya menjadi alarm bahwa ada gangguan pada struktur penyangga gigi.
Gusi dan tulang rahang memiliki peran utama dalam menjaga posisi gigi tetap kokoh. Ketika jaringan ini bermasalah, gigi perlahan kehilangan daya tahannya.
Salah satu penyebab gigi goyang pada orang dewasa adalah periodontitis. Penyakit ini merupakan infeksi jaringan gusi yang berkembang perlahan dan sering tidak disertai rasa nyeri pada tahap awal.
Karena gejalanya samar, banyak penderita tidak menyadari adanya peradangan hingga kondisi sudah cukup lanjut dan gigi mulai terasa tidak stabil.
BACA JUGA:Ini Jam Makan Malam yang Aman Menurut Dokter Gizi Tanpa Khawatir Naik Berat Badan
“Gigi yang goyang adalah sinyal dari tubuh bahwa ada masalah serius dengan gusi dan tulang penyangga gigi. Penanganan yang tepat bisa membantu menyelamatkan gigi Anda,” kata drg. R. A. Syanti W. Astuty, Sp.Perio, FISID, M.M.
Syanti menjelaskan, kegoyangan gigi pada orang dewasa tidak bisa disamakan dengan peristiwa tanggalnya gigi pada anak. Selain infeksi gusi kronis, terdapat faktor lain yang mempercepat kerusakan jaringan penyangga. Trauma akibat kecelakaan, kebiasaan menggertakkan gigi saat tidur, hingga penyakit sistemik seperti diabetes melitus turut memperburuk kondisi gusi dan tulang rahang.
Situasi ini semakin mengkhawatirkan jika melihat gambaran kesehatan gusi masyarakat Indonesia. Prevalensi penyakit gusi dilaporkan mencapai sekitar 74 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa mayoritas penduduk berada dalam kelompok berisiko mengalami gangguan jaringan penyangga gigi jika tidak ditangani dengan baik.
“Pemberian terapi yang tepat dapat mencegah kerusakan jaringan gusi dan tulang ke arah yang lebih lanjut serta menghindarkan pasien dari kehilangan gigi,” ujar Syanti.
Meski demikian, gigi yang sudah terasa goyang tidak selalu berujung pada pencabutan. Dengan pemeriksaan sejak tahap awal, dokter gigi masih memiliki peluang untuk mempertahankan gigi yang terdampak. Penilaian klinis dilakukan untuk melihat tingkat kerusakan jaringan serta menentukan pendekatan perawatan yang paling sesuai.
BACA JUGA:Tarif Listrik 2026, Simak Program Intensif Awal Tahun dari Pemerintah
Terapi yang diberikan bisa bervariasi, mulai dari pembersihan karang gigi secara menyeluruh hingga tindakan stabilisasi gigi menggunakan teknik splinting. Pada beberapa kasus, penyesuaian gigitan diperlukan untuk mengurangi tekanan berlebih pada gigi tertentu.
Jika kerusakan sudah melibatkan jaringan lebih dalam, terapi periodontal lanjutan menjadi bagian dari perawatan untuk membantu pemulihan gusi dan tulang penyangga.
“Gigi goyang bisa diperbaiki dengan penanganan yang tepat. Pemeriksaan lebih dini membantu menghindari masalah yang lebih besar di masa depan,” tegas Syanti.
Upaya mempertahankan gigi tidak hanya bergantung pada tindakan medis. Perilaku sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan perawatan. Menyikat gigi dengan teknik yang benar, melakukan scaling secara rutin setiap enam bulan, serta menghindari kebiasaan menggigit benda keras atau menggertakkan gigi dapat membantu menjaga kondisi gusi tetap stabil.
Bagi pasien dengan diabetes, pengendalian kadar gula darah menjadi faktor penting. Gula darah yang tidak terkontrol dapat memperparah peradangan gusi dan mempercepat kerusakan jaringan penyangga gigi.
BACA JUGA:Tak Perlu KTP Pemilik Lama, Ini Tips Balik Nama Kendaraan Bekas
“Kebiasaan sederhana ini tidak hanya menjaga gigi dan gusi tetap sehat, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan tubuh secara keseluruhan,” kata Syanti.
Dari sisi fasilitas, perkembangan teknologi kedokteran gigi turut mendukung proses perawatan yang lebih aman dan presisi. Penggunaan perangkat seperti 3D CBCT, Waterlase, teknologi laser dentistry, serta CAD CAM dentistry memungkinkan diagnosis yang lebih akurat dan tindakan yang minim rasa tidak nyaman bagi pasien.
Pendekatan perawatan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan dokter gigi umum dan dokter spesialis sesuai kebutuhan kasus. Setiap pasien mendapatkan rencana perawatan yang disesuaikan dengan kondisi klinisnya, bukan pendekatan yang seragam.
“Dengan kombinasi teknologi terkini dan pengalaman para dokter spesialis, kami bertujuan memberikan perawatan gigi yang menyeluruh dan sesuai kebutuhan pasien,” ujar dr. Pitono.
Gigi yang mendadak terasa goyang seharusnya tidak dianggap sepele. Kesadaran untuk mengenali tanda awal gangguan gusi dan segera mencari penanganan dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kehilangan gigi, sekaligus menjaga kesehatan mulut dan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News