Ini Jam Makan Malam yang Aman Menurut Dokter Gizi Tanpa Khawatir Naik Berat Badan
Ilustrasi makan malam hari.--Foto: Pexels
JAKARTA, PostingNews.id - Kekhawatiran soal makan malam kerap berangkat dari asumsi lama bahwa menyantap makanan di atas jam tertentu akan memicu kenaikan berat badan atau mengacaukan metabolisme.
Anggapan itu membuat sebagian orang memilih melewatkan makan malam atau membatasi jam makan secara ketat. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan penjelasan medis.
Spesialis gizi klinik dr. M. Ingrid Budiman, SpGK, AIFO-K, menilai bahwa dampak makan malam terhadap tubuh tidak bisa disederhanakan hanya berdasarkan jam. Menurut dia, waktu makan malam perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, termasuk jaraknya dengan waktu tidur dan jenis makanan yang masuk ke tubuh.
Ia menjelaskan bahwa tubuh memiliki mekanisme pencernaan yang membutuhkan waktu. Karena itu, patokan makan malam seharusnya tidak bertumpu pada angka tertentu di jam dinding, melainkan pada kesiapan tubuh untuk beristirahat.
"Sebenarnya sih patokan utama itu tidak kurang dari dua jam sebelum tidur," kata dr. Ingrid, dikutip Jumat, 10 Januari 2026.
BACA JUGA:Anti Boros Listrik, Ini Waktu yang Tepat Pakai Mesin Cuci
Ia menerangkan bahwa ketika seseorang makan terlalu dekat dengan waktu tidur, proses pencernaan belum selesai saat tubuh mulai beristirahat. Kondisi tersebut berpotensi membuat makanan tidak tercerna dengan optimal, sehingga energi yang seharusnya terbakar justru tersimpan.
Namun persoalan makan malam tidak berhenti pada soal jarak waktu dengan tidur. Jenis makanan yang dikonsumsi pada malam hari, menurut dr Ingrid, justru memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kondisi tubuh.
"Tapi tergantung dulu makan malamnya apa," ujar dr Ingrid.
Ia mencontohkan, waktu makan yang relatif awal tidak otomatis aman bila pilihan makanan tidak tepat. "Jangan sampai selesai makan jam 6, tapi itu makannya martabak atau yang manis-manis," katanya.
Menurut dia, makanan tinggi gula dan lemak yang dikonsumsi pada malam hari lebih berisiko menimbulkan penumpukan kalori, terutama jika aktivitas fisik setelahnya sangat minim.
Sebaliknya, makan malam dengan komposisi seimbang tetap dapat diterima tubuh meski dilakukan di atas jam yang sering dianggap terlambat.
BACA JUGA:Satu Pasien Terjangkit Super Flu Meninggal di RS Bandung, Begini Gejalanya
Dr. Ingrid menekankan bahwa makan malam bukan sesuatu yang harus dihindari. Yang perlu diperhatikan adalah porsi yang tidak berlebihan, kandungan gizi yang seimbang, serta jarak yang cukup dengan waktu tidur. Dengan pendekatan tersebut, makan malam tidak otomatis menjadi penyebab naiknya berat badan atau gangguan metabolisme.
Ia mengingatkan bahwa kebiasaan makan sebaiknya disesuaikan dengan pola hidup masing-masing orang. Fokus pada kualitas makanan dan ritme tubuh dinilai lebih relevan dibandingkan sekadar terpaku pada aturan jam makan yang kaku.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News