Tidak Selalu Normal, Waspada Respons Tersengal-sengal Setelah Naik Tangga

Tidak Selalu Normal, Waspada Respons Tersengal-sengal Setelah Naik Tangga

Ilustrasi menaiki tangga.--Foto: Pexels

JAKARTA, PostingNews.id - Tersengal-sengal setelah menaiki tangga kerap dialami banyak orang. Kondisi ini muncul pada berbagai kelompok usia dan tingkat kebugaran. Aktivitas sederhana itu sering memunculkan tanya, apakah napas yang menjadi lebih berat masih tergolong wajar atau justru menjadi penanda awal gangguan kesehatan.

Penjelasan para ahli menunjukkan bahwa napas yang cepat dan terasa berat saat naik tangga pada dasarnya merupakan respons alami tubuh. Saat seseorang melangkah naik, beban kerja fisik meningkat. Otot harus mengangkat berat badan sendiri dan jantung dipacu untuk mengirim lebih banyak oksigen ke jaringan.

Dokter keluarga sekaligus dokter kedokteran olahraga Katherine Pohlgeers menyebut reaksi tersebut sebagai bagian dari mekanisme fisiologis yang normal.

“Ini adalah respons tubuh yang wajar karena saat naik tangga, beban kerja tubuh meningkat. Kebutuhan oksigen dan kerja pernapasan juga ikut bertambah,” ujarnya.

Aktivitas menaiki tangga memang lebih menuntut dibanding berjalan di permukaan datar.

BACA JUGA:Manohara Pacari Bule Brondong, Profilnya Mentereng!

Pandangan serupa disampaikan performance specialist, Karl Erickson. Ia mengibaratkan naik tangga dengan rangkaian gerakan latihan kekuatan.

“Itu cukup normal. Pada dasarnya Anda mengangkat tubuh dan melakukan squat saat menaiki tangga,” kata Erickson.

Bila irama napas kembali stabil dalam satu hingga dua menit setelah berhenti, kondisi tersebut umumnya tidak memerlukan kekhawatiran khusus.

Meski begitu, intensitas napas memburu tidak selalu sama pada setiap orang. Usia, kebiasaan bergerak, dan gaya hidup sehari-hari berpengaruh besar. Orang yang rutin berolahraga biasanya hampir tidak merasakan gangguan berarti. Sebaliknya, mereka yang jarang bergerak atau memiliki pola hidup sedentari bisa merasa kehabisan napas hanya setelah satu lantai tangga.

“Pada atlet, mungkin hampir tidak terasa. Namun pada orang paruh baya dengan gaya hidup lebih sedentari, napas memburu setelah naik satu lantai tangga bisa sangat umum,” kata Pohlgeers.

BACA JUGA:Kadung Ngaku ke Keluarga, Perempuan 23 Tahun Nekat Nyamar Jadi Pramugari Rute Palembang–Jakarta

Faktor lain seperti menaiki tangga dengan tergesa atau sambil membawa beban berat juga akan mempercepat laju napas dibandingkan berjalan santai.

Namun tidak semua kondisi napas terasa berat bisa diabaikan. Ada situasi tertentu yang patut dicermati. Bila kondisi ini baru muncul, terasa semakin berat, atau berbeda dari kebiasaan sebelumnya, para ahli menyarankan untuk tidak menutup mata.

“Perubahan kemampuan beraktivitas adalah hal yang kami perhatikan serius,” ujar Pohlgeers. “Bukan untuk langsung panik, tetapi juga jangan langsung menganggapnya hanya karena kurang bugar,” tambahnya.

Sejumlah kondisi medis dapat memperparah gangguan pernapasan saat aktivitas, mulai dari gangguan jantung, obesitas, penyakit paru kronis, kebiasaan merokok, hingga anemia. Erickson menekankan pentingnya memperhatikan durasi pemulihan napas. Jika setelah berhenti beraktivitas napas masih terasa berat lebih dari tiga menit, pemeriksaan lanjutan layak dipertimbangkan.

“Jika pernapasan tetap cepat selama lebih dari tiga menit atau dalam jangka waktu yang lama, itu menjadi lebih mengkhawatirkan,” kata Erickson.

Tanda lain yang menyertai, seperti nyeri dada, pusing, sakit kepala, atau gangguan penglihatan, juga tidak boleh diabaikan. Kombinasi gejala tersebut perlu segera dikonsultasikan ke tenaga medis.

Bagi mereka yang sering mengalami napas memburu saat naik tangga namun tidak memiliki riwayat penyakit tertentu, peningkatan daya tahan tubuh tetap memungkinkan. Adaptasi fisik dapat dibangun perlahan.

“Tubuh akan beradaptasi dengan tuntutan yang diberikan. Jika sering melatih naik tangga, tubuh akan menjadi lebih efisien,” kata Erickson.

Pohlgeers menyarankan pendekatan bertahap dan berkelanjutan. Tidak perlu memaksakan diri naik turun tangga berulang kali dalam waktu singkat. Kebugaran bisa dibangun melalui aktivitas yang konsisten dan menyenangkan. Kegiatan sederhana seperti berkebun atau mengerjakan pekerjaan halaman rumah dapat membantu meningkatkan kapasitas fisik.

 

Seiring meningkatnya kekuatan otot dan kebugaran kardiovaskular, kemampuan tubuh untuk menghadapi aktivitas seperti menaiki tangga akan membaik dengan sendirinya. Laju napas yang tadinya cepat dan berat perlahan menjadi lebih terkontrol, menandakan tubuh yang kian efisien menghadapi tuntutan sehari-hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait