Bertaruh Nyawa, Kisah Dramatis Pengajar di Aceh Tengah Naik Gondola Ekstrem ke Sekolah
Pengajar di Aceh Tengah harus menaiki gondola untuk sampai ke sekolah.--Foto: Instagram dikasihinfo.com
JAKARTA, PostingNews.id - Perjalanan menuju SMA Negeri 44 Takengon berubah menjadi ujian nyali bagi para pengajarnya. Setiap hari, mereka harus bergantung pada sebuah gondola sederhana yang meluncur di atas tali baja untuk bisa mencapai sekolah yang berdiri terisolasi di Kampung Bah, wilayah pegunungan di Kabupaten Aceh Tengah. Hingga kini, sarana itu menjadi satu-satunya jalur yang masih dapat digunakan.
Kondisi tersebut diungkapkan oleh Shapriana Dewi, guru Ilmu Pengetahuan Sosial, pada Sabtu 10 Januari 2026. Ia baru pertama kali merasakan sendiri pengalaman menyeberang menggunakan sling tersebut.
Dewi sehari-hari menetap di Kabupaten Bener Meriah dan harus menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya tiba di titik penyeberangan.
“Kaki dingin, ditambah kawan bawa durian pas pulang, ketusuk tusuk kaki kita ya Allah, aku sendiri mengekspressikan rasa takut itu dengan ketawa,” ucap Dewi kepada wartawan melalui pesan WhatsApp.
Menurut Dewi, rasa cemas kerap menyelimuti siapa pun yang berada di dalam gondola. Ketegangan itu sering kali diimbangi dengan tawa para pengajar lain yang menunggu giliran menyeberang, seolah mencoba meredam takut dengan candaan.
BACA JUGA:Jule Minta Warganet Bersiap, Sebut Akan Ungkap Bukti KDRT Na Daehoon
Meski sadar akan risiko keselamatan, mereka tidak memiliki pilihan lain jika ingin tetap menjalankan tugas mengajar.
Sarana penyeberangan tersebut tidak memungut biaya bagi para guru. Dewi menyebutkan, iuran hanya dikenakan kepada warga yang memanfaatkan sling untuk mengangkut hasil pertanian menggunakan sepeda motor. Pembayaran itu pun bersifat sukarela dan ditujukan untuk perawatan tali baja agar tetap bisa digunakan.
Aktivitas sekolah belum sepenuhnya berjalan. Dewi mengatakan sebagian besar siswa belum kembali ke bangku kelas karena keluarga mereka terdampak bencana banjir. Banyak di antara mereka masih tinggal di posko pengungsian.
Para siswa berasal dari Kampung Bah dan kawasan Serempah. Daerah Serempah sendiri telah ditetapkan sebagai zona merah dan dinilai tidak layak huni sehingga warganya berpindah ke Pasar Simpang Empat.
“Kami belum pernah masuk sekolah (belajar), karena anak-anak tidak memungkinkan datang ke sekolah, siswa berasal dari Kampung Bah dan Serempah. Sementara Serempah sudah ‘zona merah’, tidak layak huni lagi. Jadi anak-anak berada Pasar Simpang Empat,” ucapnya.
Jika pembelajaran kembali digelar, para murid pun harus melewati jalur yang sama dengan guru, yakni menyeberang menggunakan sling. Kondisi ini menimbulkan kecemasan di kalangan orang tua yang enggan melepas anak-anak mereka melalui akses berbahaya.
Di sisi lain, jalur darat dari arah Serempah masih tertutup longsoran sehingga belum dapat dilalui.
Dalam situasi tersebut, kegiatan yang lebih banyak dilakukan para guru adalah pendampingan psikologis. Sejak awal pekan, mereka mendatangi siswa untuk memberikan dukungan mental dan membantu memulihkan trauma akibat bencana.
“Sementara kami memberikan treatmen trauma untuk anak-anak,” ucap Dewi.
Meski tantangan masih besar, Dewi memastikan kegiatan belajar mengajar akan mulai diaktifkan kembali pada Senin 12 Januari 2026. Keputusan itu diambil agar proses pendidikan tidak semakin tertunda, meskipun akses menuju sekolah masih terbatas.
BACA JUGA:Pelapor Pandji Pragiwaksono Mendadak Buka Ruang Damai
“Apapun kondisinya, proses belajar mengajar akan kami lakukan pada hari senin,” sebut Dewi.
Ia menambahkan, sebagian besar tenaga pendidik di sekolah tersebut berasal dari luar Kampung Bah, termasuk dari kawasan Takengon. Dalam keseharian, mereka menggunakan sepeda motor hingga titik tertentu sebelum melanjutkan perjalanan dengan gondola.
Sekolah ini tercatat memiliki 45 siswa dengan dukungan 20 guru. Selama akses belum normal, para pengajar tetap berusaha hadir untuk memastikan siswa tidak kehilangan pendampingan pendidikan, meski harus menempuh perjalanan berisiko.
“Kalau aktif, apapun kondisinya kami harus mengajar, tapi maunya jangan pakai sling lagi bang,” ungkap Dewi.
Sementara itu, upaya perbaikan infrastruktur mulai dilakukan. Informasi yang beredar menyebutkan jembatan darurat menuju Kampung Burlah sedang dalam tahap pengerjaan dan ditargetkan selesai dalam waktu dekat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News