Konflik di Myanmar Makin Panas, Tentara Tiongkok Jadi Sasaran

Konflik di Myanmar Makin Panas, Tentara Tiongkok Jadi Sasaran

Pasukan PLA Tiongkok.--Istimewa

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Pada Selasa (27/6) lalu, terjadi penyerangan terhadap konvoi kendaraan yang mengangkut personel militer Cina dan Myanmar di Negara Bagian Kachin, Myanmar.
 
Junta Myanmar menuduh kelompok etnis bersenjata, Tentara Kemerdekaan Kachin, sebagai dalang di balik aksi penembakan tersebut.
 
Namun, pihak Tentara Kemerdekaan Kachin membantah terlibat dalam penyerangan tersebut.
 
Juru Bicara Junta Myanmar, Zaw Min Tun, menyatakan bahwa Tentara Kemerdekaan Kachin bertanggung jawab atas serangan itu berdasarkan bukti yang mereka miliki.
 
"Kami bisa pastikan anggota (Tentara Kemerdekaan Kachin) yang menyerang konvoi," kata dia, Sabtu (1/7).
 
 
Namun, pihak militer Cina dan Myanmar melaporkan tidak ada korban tewas atau luka-luka dalam kejadian tersebut.
 
Kolonel Tentara Kemerdekaan Kachin, Naw Bu, membantah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa kelompok mereka tidak terlibat dalam penyerangan terhadap konvoi tersebut.
 
Ia mengklaim bahwa wilayah tersebut sedang mengalami pertempuran sengit sejak hari sebelumnya.
 
Belum ada tanggapan dari Kementerian Luar Negeri Cina terkait insiden ini.
 
Pada Oktober tahun sebelumnya, sekitar seribu orang tewas akibat serangan udara militer Myanmar terhadap Tentara Kemerdekaan Kachin dalam sebuah konflik lainnya.
 
 
Krisis di Myanmar terjadi setelah militer melancarkan kudeta terhadap pemerintahan sipil pada Februari 2021, menangkap pemimpin de facto Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan beberapa tokoh senior partai National League for Democracy (NLD).
 
Hal ini memicu gelombang demonstrasi di seluruh wilayah Myanmar, dengan tuntutan pembebasan para pemimpin sipil yang ditangkap.
 
Namun, militer merespons dengan tindakan represif dan brutal.
 
Berdasarkan laporan dari Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), lebih dari 3.240 warga sipil tewas dalam tangan militer Myanmar sejak kudeta terjadi.
 
Namun, angka tersebut belum termasuk semua korban dari pertempuran.
 
 
Kelompok pemantau lokal mencatat lebih dari 3.700 orang tewas akibat tindakan keras militer, sementara PBB menyebutkan bahwa setidaknya 1,2 juta orang kehilangan tempat tinggal atau terlantar akibat konflik pasca-kudeta.

Temukan konten Postingnews.Id menarik lainnya di Google News

Sumber: