Gunung Slamet Memanas, Sinyal Erupsi Kian Kuat Terbaca
Aktivitas Gunung Slamet meningkat, suhu kawah melonjak dan gempa bertambah, potensi erupsi mulai terdeteksi oleh Badan Geologi.-Foto: Antara-
JAKARTA, PostingNews.id — Aktivitas Gunung Slamet di Jawa Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Sejumlah indikator teknis mencatat perubahan, mulai dari embusan asap hingga lonjakan suhu di kawah yang tak bisa lagi dianggap biasa.
Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria mengungkapkan, ancaman erupsi kini mulai terbaca meski status gunung masih bertahan di Level II atau waspada.
“Potensi ancaman bahaya saat ini adalah erupsi freatik yang menghasilkan abu dan hujan lumpur atau erupsi magmatik yang menghasilkan lontaran material pijar ke daerah sekitar puncak di dalam radius dua kilometer,” kata Lana dalam keterangan tertulis, Sabtu 4 April 2026.
Ia juga mengingatkan adanya risiko lain berupa gas vulkanik dengan konsentrasi tinggi yang bisa muncul di sekitar kawah. Meski sebarannya terbatas, potensi bahaya tetap tidak bisa diabaikan.
BACA JUGA:Rusun di Lahan KAI Digarap Astra, Pemerintah Siapkan Skema Subsidi Baru
Pemerintah meminta masyarakat dan wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah puncak. Imbauan ini jadi langkah antisipasi sebelum situasi berkembang lebih jauh.
Dari pengamatan visual, asap putih terus keluar dari kawah dan membentuk kolom setinggi 300 meter. Fenomena ini menandakan proses pelepasan gas dari magma yang mulai aktif menuju permukaan.
Data termal memperlihatkan lonjakan suhu yang cukup tajam. Suhu maksimum kawah kini mencapai 411,2 derajat Celsius, naik jauh dibandingkan 247,4 derajat pada September 2024.
“Kenaikan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam aktivitas termal kawah,” ujar Lana.
Tak hanya itu, pola sebaran panas juga berubah. Jika sebelumnya hanya terpusat di tengah kawah, kini panas menyebar lebih luas hingga membentuk lingkaran di sekitar dinding kawah.
“Perubahan pola sebaran suhu itu mengindikasikan berkembangnya sistem rekahan,” kata Lana.
Dari sisi kegempaan, aktivitas juga terbilang intens. Dalam periode 16 Maret hingga 3 April 2026 tercatat ratusan gempa, didominasi gempa embusan dan gempa berfrekuensi rendah yang berkaitan dengan pergerakan gas magmatik.
Sementara itu, pemantauan deformasi menunjukkan adanya pola memanjang atau deflasi. Kondisi ini mengindikasikan magma bergerak ke posisi yang lebih dangkal, mendekati permukaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News