Kita Bangga Disebut Homo Sapiens, Tapi Alam Terus Kita Rusak

Kita Bangga Disebut Homo Sapiens, Tapi Alam Terus Kita Rusak

Manusia menyebut diri Homo sapiens atau manusia bijak, namun sejarah modern justru menunjukkan eksploitasi alam dan krisis ekologi global.-Foto: Sapiens.org-

BACA JUGA:Sejarah Tahun Baru yang Jatuh 1 Januari, Manusia Menentukannya Lewat Politik dan Keyakinan

Peringatan sebenarnya sudah lama datang. Pada 1972, laporan The Limits to Growth mengingatkan bahwa Bumi punya batas. Pola konsumsi dan pertumbuhan yang tak terkendali akan menabrak dinding dalam satu abad. Namun realitas berjalan lebih cepat. Pada 2022, para peneliti menyatakan Bumi sudah berada di ambang batas kritis, hanya setengah abad setelah peringatan itu disampaikan. Sebuah prestasi yang terdengar getir.

Belakangan, Indonesia menjadi panggung dari rangkaian bencana hidrometeorologi. Aceh, Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Papua merasakan dampaknya. Bencana-bencana ini bukan sekadar peristiwa cuaca, melainkan sinyal keras bahwa hubungan kita dengan alam sudah melenceng jauh. Alam seolah melakukan homeostasis, upaya menyeimbangkan diri dari kerusakan yang kita ciptakan. Pertanyaannya sederhana tapi menakutkan, apakah manusia sanggup bertahan menghadapi reaksi balik itu.

Namun cerita ini tidak harus berakhir suram. Jika manusia punya kemampuan merusak, ia juga punya kemampuan memulihkan. Harapan masih terlihat pada masyarakat adat yang menjaga hutan dan menghidupkan kembali lahan yang rusak. Harapan juga muncul dari kesepakatan global yang berusaha melindungi ekosistem, meski jalannya sering tersendat.

Masalahnya kini bukan kekurangan teori. Kita tidak kekurangan konsep keberlanjutan atau peta jalan penyelamatan Bumi. Yang langka adalah aksi nyata. Perubahan perilaku masih kalah cepat dibanding laju kerusakan.

BACA JUGA:Dua Perusahaan Raksasa Siap Masuk Bursa, BEI Bocorkan Dua Emiten Mercusuar

Mungkin sudah waktunya kita meninjau ulang nama yang kita banggakan. Menjadi Homo sapiens seharusnya bukan sekadar soal kecerdasan dan teknologi, tetapi tentang kebijaksanaan dalam bertindak. Bukan hanya pintar mengubah dunia, tetapi tahu kapan harus berhenti dan merawatnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait