Banner Internal

Warga Gunung Jawa Barat Kompak Lawan Geotermal, Air dan Sawah Dianggap Bakal Jadi Korban

Warga Gunung Jawa Barat Kompak Lawan Geotermal, Air dan Sawah Dianggap Bakal Jadi Korban

Warga Gunung Tampomas, Ciremai, Gede Pangrango, dan Cisolok menolak geotermal karena khawatir sumber air dan lahan pertanian terdampak.-Foto: Antara-

JAKARTA, PostingNews.id — Gelombang penolakan terhadap proyek panas bumi atau geotermal mulai menguat di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Barat. Warga yang selama ini hidup dari pertanian dan sumber mata air menilai proyek energi yang kerap disebut ramah lingkungan itu justru berpotensi mengancam ruang hidup mereka.

Penolakan tersebut disuarakan Paguyuban Warga Jaga Giri Warga di Kaki Gunung Jawa Bagian Barat Bandung. Kelompok ini menghimpun warga dari kawasan Gunung Tampomas di Sumedang, Gunung Gede Pangrango di Cianjur, Gunung Ciremai di Kuningan, hingga Gunung Cisolok-Sukarame di Sukabumi.

Bagi warga, ancaman terbesar bukan sekadar aktivitas pengeboran, melainkan kemungkinan hilangnya sumber penghidupan yang selama ini menopang ekonomi desa.

Perwakilan warga Gunung Tampomas, Pepen, mengatakan kawasan yang kini masuk bidikan proyek geotermal merupakan daerah pertanian produktif yang menghasilkan beras, durian, cengkeh, cokelat, hingga alpukat. Hasil panennya dipasarkan ke berbagai daerah seperti Bandung, Cirebon, dan Jakarta. Selain itu, budidaya jamur yang dijalankan warga disebut mampu menghasilkan hingga 25 ton dalam satu musim panen.

Menurut Pepen, keberadaan Gunung Tampomas juga menjadi penyangga sumber air bagi sedikitnya 10 kecamatan beserta lahan pertanian yang bergantung pada pasokan air tersebut.

“Semuanya terancam hilang dengan rencana proyek geothermal,” kata Pepen dalam keterangannya di Bandung, Senin, 8 Juni 2026.

BACA JUGA:Harga Sembako Bikin Gerah, Kepuasan ke Prabowo Mulai Retak Meski Masih di Atas 59 Persen

Kekhawatiran serupa datang dari Sukabumi. Embang yang mewakili warga Gunung Cisolok-Sukarame menyoroti kebutuhan air yang besar dalam industri geotermal. Sementara itu, Apip dari Gunung Ciremai menilai proyek tersebut berpotensi memicu persoalan sosial baru, mulai dari berkurangnya akses air hingga meningkatnya risiko kemiskinan warga sekitar.

Di tengah perdebatan mengenai transisi energi, warga mengaku justru menghadapi tekanan lebih dulu bahkan sebelum proyek berjalan.

Direktur LBH Bandung, Heri Pramono, mengatakan berbagai bentuk ancaman hingga kriminalisasi terhadap warga kerap muncul ketika masyarakat menyuarakan keberatan terhadap proyek-proyek berskala besar.

“Sering kali suara warga yang mengkritik proyek justru dianggap tidak mewakili kepentingan umum, menolak pembangunan, dan amoral,” ujarnya.

Atas dasar itu, paguyuban warga meluncurkan petisi yang berisi tuntutan penghentian seluruh rencana proyek geotermal di Indonesia, khususnya di kawasan pegunungan Jawa bagian barat. Mereka juga meminta penghentian praktik industri geotermal yang dinilai berpotensi merusak lingkungan serta mengurangi ruang hidup masyarakat.

BACA JUGA:Sekolah Nyaris Jadi Korban Kopdes Merah Putih, DPR Semprot TNI dan Minta Penjelasan Terbuka

Warga menegaskan bahwa keberlanjutan sektor pertanian dan pelestarian lingkungan harus menjadi prioritas dibanding ekspansi proyek energi yang dinilai belum menjawab kekhawatiran masyarakat di lapangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share
Seedbacklink affiliate

Berita Terkait