Buku Sejarah Baru Versi Pemerintah Siap Terbit, Fadli Zon Bilang Belum Pernah Baca tapi Yakin Aman
Buku sejarah nasional baru siap terbit Agustus 2026. Fadli Zon pernah mengaku belum membaca isi buku saat proyek diluncurkan.-Foto: Antara-
JAKARTA, PostingNews.id — Pemerintah tampaknya serius menulis ulang ingatan bangsa. Setelah sempat menuai ribut-ribut dan kecurigaan publik, buku sejarah nasional versi baru akhirnya diklaim siap edar. Tinggal poles desain, sampul, dan sentuhan akhir. Isinya disebut sudah kelar sejak lama.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan buku berjudul Sejarah Indonesia Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global direncanakan terbit pada Agustus 2026. Menurut dia, proses saat ini lebih banyak urusan tampilan, bukan lagi isi.
“Sudah terbit sebenarnya, tapi sedang kita edit dengan perwajahannya, desain bukunya. Insyaallah nanti bulan Agustus ini,” kata Fadli Zon usai salat Iduladha di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa, 27 Mei 2026.
Fadli memastikan publik nantinya bisa mengakses buku tersebut. Pernyataan ini penting karena proyek penulisan ulang sejarah nasional sejak awal memancing pertanyaan. Sejarah versi siapa yang ditulis, siapa yang menentukan, dan apa yang dipilih untuk diingat atau dilupakan.
Buku itu bukan proyek kecil. Tebalnya sekitar 8 ribu halaman dengan 11 jilid yang dikerjakan 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi di Indonesia. Isinya membentang dari sejarah awal Nusantara, hubungan dengan India dan China, pengaruh Timur Tengah, masa kolonial, perang kemerdekaan, Orde Baru, Reformasi, sampai indeks.
Editor umum buku, Singgih Tri Sulistiyono, mengatakan substansi naskah sebenarnya sudah selesai. Yang belum rampung justru bungkus luarnya.
“Jadi ini tinggal proses desain saja. Proses desain tentu yang nanti yang menentukan dari Kementerian Kebudayaan,” kata Singgih kepada Tempo, Selasa, 13 Mei 2026.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di proyek sejarah negara, desain kadang bukan sekadar soal warna sampul. Ia bisa jadi pintu pertama tentang bagaimana sejarah ingin diperkenalkan dan dibaca.
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro itu mengatakan buku fisik nantinya dicetak terbatas untuk lembaga tertentu. Namun masyarakat dijanjikan dapat mengakses versi PDF secara gratis melalui perpustakaan daring.
“Kira-kira nanti peluncuran besar dilakukan pada hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia 17 Agustus,” ujar Singgih.
Rencana peluncuran bertepatan dengan peringatan kemerdekaan membuat proyek ini tampak ingin diposisikan bukan hanya sebagai buku, tapi semacam penanda resmi cara negara membaca masa lalu.
Padahal sebelumnya, proyek penulisan ulang sejarah sempat ditolak sebagian kalangan. Ada kekhawatiran sejarah akan disusun terlalu dekat dengan kepentingan kekuasaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
