Relawan Indonesia Pulang Penuh Luka Usai Disiksa Israel, Roti Kering dan Taser Jadi Teman Penyanderaan
Kapal-kapal dari "Global Sumud Flotilla 2026 Spring Mission," yang bertujuan untuk menembus blokade Israel di Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan, berangkat dari marina di Augusta di pulau Sisilia, Italia, pada 26 April 2026. Armada yang terdiri dari--
JAKARTA, PostingNews.id — Nasib sembilan warga negara Indonesia yang berangkat membawa misi kemanusiaan ke Gaza berakhir jauh dari gambaran heroik. Bukannya disambut jalur bantuan terbuka, mereka justru pulang dengan luka, cerita penyiksaan, dan tubuh yang harus diperiksa sebelum bisa kembali ke rumah.
Seluruh WNI yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0 akhirnya dibebaskan setelah sempat ditahan militer Israel. Saat ini mereka berada di Istanbul, Turki, menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum dipulangkan ke Indonesia.
Salah satu korban penyanderaan adalah jurnalis TV Tempo, Andre Prasetyo Nugroho. Ia tiba di Istanbul pada Kamis malam, 21 Mei 2026. Kondisinya disebut stabil, meski sejumlah luka masih tampak di beberapa bagian tubuh.
Andre mengaku luka yang dialaminya justru belum seberapa dibanding relawan lain.
“Yang lain lebih parah. Ada yang patah segala macam,” ujar Andre dari Istanbul saat menghubungi melalui telepon seluler milik staf kedutaan, Kamis.
BACA JUGA:9 WNI Disandera Israel, MUI Sentil Keras Prabowo: BoP Jangan Cuma Jadi Pajangan Diplomasi!
Kalimat itu terdengar pendek. Tapi cukup untuk menggambarkan bahwa perjalanan kemanusiaan ini berubah jadi pengalaman bertahan hidup.
Selama ditahan, para relawan disebut mengalami berbagai bentuk kekerasan. Ada pemukulan, penggunaan taser gun, peluru karet, penghinaan, pelecehan hingga pemaksaan posisi tubuh yang menyakitkan. Cerita itu disampaikan Global Peace Convoy Indonesia, organisasi yang menaungi misi tersebut.
Andre juga mengungkap hal lain yang mungkin terdengar sepele, tapi sering jadi alat penyiksaan paling dasar yakni makanan.
Menurutnya, selama penyanderaan, para relawan tidak mendapat asupan layak. Air minum terbatas. Makanan sekadarnya. Sebagian memilih mogok makan sebagai bentuk protes.
“Minum jarang. Makanan dikasih roti-rotian. Tapi saya mogok makan. Jadi baru makan enak di pesawat tadi,” kata Andre.
Ironinya, makanan paling layak justru baru didapat setelah keluar dari penahanan.
Saat ini para relawan telah mendapat pendampingan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Istanbul. Pemeriksaan kesehatan dilakukan sebelum mereka dipulangkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
