Bahlil Yakin Prabowo Bisa Mediasi Iran–AS–Israel, Diplomat Senior Geleng Kepala
Bahlil Lahadalia yakin Prabowo bisa memediasi konflik Iran, AS, dan Israel. Namun diplomat Dino Patti Djalal menilai rencana tersebut tidak realistis.-Foto: Antara-
Hal itu membuat posisi Indonesia sebagai mediator dinilai tidak cukup kuat secara diplomatik.
Alasan berikutnya berkaitan dengan kemungkinan pertemuan antara para pihak yang berkonflik. Menurut Dino, sekalipun Prabowo siap terbang ke Teheran untuk menjalankan peran mediasi, hampir mustahil Presiden Amerika Serikat Donald Trump maupun Menteri Luar Negeri Marco Rubio bersedia datang ke ibu kota Iran.
Situasi tersebut membuat upaya mediasi menjadi semakin sulit.
Dino juga menyoroti satu konsekuensi lain yang tidak kalah sensitif. Upaya mediasi berarti Presiden Prabowo harus membuka komunikasi langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam serangan terhadap Iran.
Langkah itu dinilai tidak mudah dilakukan dari sisi politik maupun diplomasi.
Menurut Dino, pertemuan antara Presiden Indonesia dengan Netanyahu berpotensi menimbulkan dampak besar di dalam negeri. Ia bahkan menyebut langkah tersebut bisa menjadi risiko politik yang sangat berat bagi seorang presiden.
“Saya sungguh tidak tahu dari mana datangnya ide yang menakjubkan ini agar Presiden Prabowo terbang ke Teheran untuk menjadi mediator konflik segitiga ini,” kata Dino.
Perdebatan mengenai kemungkinan peran Indonesia sebagai mediator di tengah konflik Timur Tengah pun masih terus berlangsung. Di satu sisi ada keyakinan bahwa diplomasi personal Presiden bisa membuka ruang komunikasi. Di sisi lain, sebagian kalangan menilai peta konflik yang rumit membuat gagasan tersebut lebih terdengar ambisius daripada realistis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News