Unggahan Terakhir Pramugari Pesawat ATR 42-500 sebelum Jatuh

Unggahan Terakhir Pramugari Pesawat ATR 42-500 sebelum Jatuh

Florencia Lolita, salah satu awak kabin yang hilang dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500.--Foto: Istimewa.

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Masa depan yang perlahan disusun Florencia Lolita Wibisono mendadak terasa menggantung. Perempuan yang akrab disapa Olen itu sebelumnya tengah bersiap menyambut fase baru dalam hidupnya. Rencana pernikahan sudah lama menjadi cerita hangat di antara keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Namun, harapan itu kini diselimuti ketidakpastian. Olen menjadi salah satu awak pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta menuju Makassar yang jatuh di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu siang, 17 Januari 2026.

Sejak kabar pesawat hilang kontak, waktu seolah berhenti bagi keluarga. Kecemasan datang bersamaan dengan doa yang terus dipanjatkan. Juwita, salah satu kerabat dekatnya, mengatakan bahwa rencana pernikahan Olen selama ini menjadi sumber kebahagiaan bersama.

“Iya, dia memang akan segera menikah. Kami semua sudah menantikan momen bahagia itu,” ujar Juwita dengan suara lirih.

Beberapa jam sebelum kejadian, Olen masih sempat membagikan potongan aktivitasnya di media sosial. Dalam unggahan itu, ia terlihat berdiri di tepi danau, membelakangi kamera, seolah menikmati jeda singkat sebelum kembali menjalani tugas sebagai awak kabin.

BACA JUGA:Geger! Bayi Perempuan 4 Bulan Ditemukan Mengapung di Empang Tajurhalang

Tak ada yang menyangka momen sederhana tersebut menjadi salah satu jejak terakhirnya. Bagi keluarga dan sahabat, Olen bukan hanya pramugari yang selalu tampil rapi dan profesional. Ia adalah sosok hangat yang kehadirannya selalu dirindukan.

Ibunya tinggal di Kendis, Minahasa, sekitar 36 kilometer dari Manado. Meski jarak memisahkan, komunikasi mereka tetap terjaga. Olen kerap menelepon, berbagi cerita tentang pekerjaannya, sekaligus mengungkapkan rindu pada masakan rumah.

“Kami sering teleponan. Dia suka cerita soal kerjaan, tapi juga sering bilang kangen masakan ibunya,” kata Juwita.

Kerinduan pada keluarga dan hal-hal sederhana itu selalu dibawa Olen ke mana pun ia terbang. Hal serupa disampaikan Natalia, kerabat dekat lainnya. Ia mengenang Olen sebagai sosok yang tak pernah datang dengan tangan kosong.

“Kalau dia tidak terbang, pasti mampir ke rumah. Masak bareng, cerita perjalanan, ketawa rame-rame. Dia itu sudah seperti keluarga sendiri,” tutur Natalia.

BACA JUGA:Empat Hari Tak Kelihatan, Warga Temukan Lansia Tewas dan Membusuk di Rumahnya

Lingkar pertemanan Olen juga luas di dunia penerbangan. Ia menjalin kedekatan dengan sesama awak kabin dari berbagai maskapai. Anak-anak Natalia bekerja di Garuda Indonesia, sementara kerabat lain bertugas di Lion Air. Mereka kerap bertukar cerita soal bandara dan kota-kota yang pernah disinggahi.

Pada hari kejadian, penerbangan yang ditumpangi Olen dan kerabatnya bahkan hanya berselisih waktu sekitar 15 menit. Pesawat mereka sempat berada di jalur yang berdekatan sebelum akhirnya kabar buruk itu datang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share