Peringatan Dokter! Kebiasaan Vape Bisa Ganggu Kualitas Sperma hingga Program Hamil, Bahkan Operasi Tak Selalu Maksimal
Ilustrasi.-Foto: KlikDokter-
Ia menjelaskan bahwa perubahan gaya hidup menjadi bagian penting dari keberhasilan terapi kesuburan. Tanpa perubahan tersebut, manfaat tindakan medis bisa terhambat.
Selain itu, perbaikan kualitas sperma tidak terjadi secara instan setelah seseorang berhenti menggunakan vape. Tubuh membutuhkan waktu untuk membentuk sel sperma baru.
“Sperma butuh sekitar 3 bulan untuk regenerasi. Masih sangat mungkin membaik,” tulis dr. Palgunadi.
Secara biologis, proses pembentukan sperma memang berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan. Karena itu, pria yang merencanakan kehamilan dianjurkan menghentikan kebiasaan yang berpotensi mengganggu kesuburan sedini mungkin agar tubuh memiliki waktu melakukan pemulihan.
BACA JUGA:Isu Dana Zakat untuk MBG Mencuat, Menag Tegaskan Batas Penerima
Pada bagian akhir unggahannya, Palgunadi menyoroti faktor kebiasaan sehari-hari yang kerap diabaikan. Banyak pria memiliki keinginan menjadi ayah, namun belum sepenuhnya siap meninggalkan pola hidup yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi.
“Banyak pria mau punya anak. Tapi belum mau lepas kebiasaan kecil yang mengganggu. Kadang bukan tubuh yang belum siap jadi ayah. Tapi kebiasaan yang belum siap ditinggalkan,” tulisnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kesuburan tidak hanya bergantung pada tindakan medis. Pola hidup, termasuk kebiasaan merokok maupun menggunakan vape, memiliki peran besar dalam menentukan keberhasilan program kehamilan.
Menghentikan penggunaan vape menjadi salah satu langkah sederhana namun penting bagi pria yang sedang merencanakan kehamilan bersama pasangan, sekaligus upaya menjaga kesehatan reproduksi dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News