Satu Pasien Terjangkit Super Flu Meninggal di RS Bandung, Begini Gejalanya
Super Flu Mengancam Kesehatan Masyarakat, Pemerintah Imbau Waspada, Ini Langkah Sederhana Agar Tidak Mudah Tertular! -@halodoc-Instagram
JAKARTA, PostingNews.id - Seorang pasien influenza A subklade H3N2 c241 meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Pasien tersebut memiliki sejumlah penyakit penyerta, di antaranya stroke, gagal jantung, dan gangguan ginjal.
Kematian itu terjadi di tengah perawatan terhadap 10 pasien terkonfirmasi super flu. Pasien-pasien tersebut dirawat sejak September hingga November 2025.
Dari 10 kasus itu, dua pasien mengalami kondisi berat. Satu pasien sempat dirawat di ruang intensif. Satu pasien lainnya meninggal dunia dengan latar belakang komorbid yang kompleks.
Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung, Iwan Abdul Rachman, menegaskan bahwa istilah super flu bukan bagian dari terminologi medis. Ia mengatakan istilah tersebut digunakan masyarakat untuk menggambarkan influenza yang dirasakan lebih berat, lebih lama, atau menyebar lebih cepat dibanding flu biasa.
“Jadi untuk super flu ini gejalanya seperti influenza biasa, hanya dirasakan lebih berat dan lebih lama. Jadi kita tak perlu panik dengan situasi ini, saat ini trennya cenderung menurun di semua daerah. Yang penting adalah pencegahan penularan dengan memakai masker, rajin mencuci tangan, kalau gejala dirasa berat segera ke fasilitas kesehatan,” kata Iwan saat konferensi pers di MCHC RSHS Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis, 08 Januari 2026.
Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging RSHS, dr. Yovita Hartantri, mengatakan peningkatan kasus influenza A mulai terpantau sejak Agustus 2025. Lonjakan tertinggi terjadi pada Oktober. Jumlah kasus kemudian menurun pada November.
Ia menjelaskan, dari 10 pasien yang dirawat terdapat dua bayi berusia 9 bulan dan 1 tahun. Satu pasien berusia 11 tahun. Mayoritas pasien berada pada rentang usia 20 hingga 60 tahun. Dua pasien lainnya berusia di atas 60 tahun.
Menurut Yovita, penyebab kematian pasien tidak dapat dipastikan semata-mata akibat infeksi virus influenza.
“Satu yang masuk ruang intensif harus dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid lain seperti stroke, ada gagal jantung, terakhir karena ada infeksi kena gagal ginjal juga. Jadi apakah itu langsung disebabkan karena virus, kita tak bisa menyatakan karena memang dia mempunyai komorbid yang banyak,” ucapnya.
Fenomena influenza berat yang disebut super flu juga menjadi perhatian di tingkat global. Pakar kesehatan masyarakat dan spesialis penyakit menular, Dr. Tyler B. Evans, menjelaskan bahwa virus influenza A H3N2 mengalami pergeseran genetik pada tahun ini. Pergeseran tersebut melahirkan varian baru yang dikenal sebagai subklade K.
Di Amerika Serikat, sejumlah anak yang sebelumnya sehat dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi H3N2 beserta komplikasinya. Situasi ini terjadi di tengah musim flu yang dinilai sangat berat.
Epidemiolog penyakit menular Dr. Brad Hutton menyebut musim flu 2025–2026 sebagai salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah.
“Musim flu 2025–2026 merupakan salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah, dengan beberapa negara bagian di AS melaporkan angka rawat inap dan kunjungan IGD yang tinggi, bahkan memecahkan rekor,” kata Hutton.
Ia menambahkan, lebih dari 90 persen virus influenza yang diuji merupakan tipe A H3N2. Sebagian besar termasuk subklade K. Varian ini telah mengalami mutasi dari virus yang beredar saat komposisi vaksin ditentukan.
Mutasi tersebut membuat kecocokan vaksin tidak sepenuhnya optimal. Kondisi ini berkontribusi terhadap meningkatnya keparahan penyakit.
Dokter Shoshana Ungerleider mengatakan virus telah berubah cukup signifikan. Sistem kekebalan tubuh menjadi kurang mampu mengenalinya. Dampaknya terlihat pada meningkatnya angka rawat inap, terutama pada lansia dan anak-anak.
Gejala yang Muncul
Secara umum, gejala influenza meliputi nyeri tubuh, menggigil, batuk, kelelahan, demam, sakit kepala, nyeri otot, hidung berair atau tersumbat, serta sakit tenggorokan.
Pada kasus super flu, gejala tersebut muncul lebih berat. Kondisi ini dapat disertai sesak napas, nyeri dada, kebingungan, kelemahan berat, dan muntah terus-menerus. Gejala juga dapat memburuk, bukan membaik.
Gejala influenza biasanya muncul secara mendadak. Pada lansia dan anak-anak, tanda infeksi bisa tidak khas. Gejalanya dapat berupa rewel, mengantuk, atau kebingungan.
Dalam pengobatan, tersedia obat antivirus seperti oseltamivir dan baloxavir. Obat ini paling efektif bila diberikan dalam 48 jam sejak gejala muncul.
Kelompok berisiko tinggi disarankan segera berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan medis juga diperlukan jika gejala tidak membaik setelah tujuh hingga sepuluh hari.
Meski demikian, sebagian besar orang yang sehat diperkirakan dapat pulih tanpa komplikasi serius.
“Sebagian besar orang yang sehat akan pulih dalam waktu sekitar satu minggu, meskipun rasa lelah dan batuk bisa berlangsung lebih lama,” kata dokter penyakit dalam bersertifikat, Dr. Shoshana Ungerleider.
Ia menambahkan, proses pemulihan bisa berlangsung lebih lama pada lansia dan penderita penyakit kronis.
“Pemulihan dapat memakan waktu beberapa minggu pada lansia, orang dengan penyakit kronis, atau siapa pun yang mengalami komplikasi atau memerlukan perawatan di rumah sakit,” sambungnya.
Ketua Departemen Riset Klinis dan Kesehatan Masyarakat di Creighton University, Dr. Maureen Tierney, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala yang menetap.
“Jika gejala bertahan lebih dari tujuh hingga 10 hari, memburuk setelah sekitar satu minggu, atau muncul kesulitan bernapas, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan,” ujarnya.
Pencegahan penularan tetap menjadi langkah utama. Masyarakat diimbau memakai masker saat sakit, menjaga kebersihan tangan, dan segera mencari pertolongan medis jika keluhan terasa berat atau tidak kunjung membaik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News