Kematian Pemimpin Oposisi Rusia Memanas, Diduga Dibunuh Pakai Racun Langka dari Katak Panah

Kematian Pemimpin Oposisi Rusia Memanas, Diduga Dibunuh Pakai Racun Langka dari Katak Panah

Navalny.--Foto: Istimewa.

BACA JUGA:Koar-Koar Tuduh Prabowo Dalang Penonaktifan BPJS, Wali Kota Denpasar Kini Minta Maaf

Navalny dikenal sebagai aktivis antikorupsi sekaligus kritikus paling vokal terhadap pemerintahan Kremlin. Ia meninggal secara mendadak pada 16 Februari 2024 dalam usia 47 tahun ketika menjalani hukuman penjara.

Sebelumnya, pada 2020, Navalny pernah diracuni menggunakan agen saraf Novichok. Ia sempat dirawat di Jerman sebelum kembali ke Rusia dan langsung ditangkap di bandara.

Racun langka dari katak panah

Zat yang disebut terkait kematian Navalny adalah epibatidin, senyawa yang pertama kali diisolasi dari kelompok katak panah beracun di wilayah utara Amerika Selatan.

Senyawa ini sempat diteliti sebagai kandidat obat pereda nyeri serta terapi gangguan peradangan paru. Namun penelitian dihentikan karena tingkat toksisitasnya dinilai terlalu tinggi untuk penggunaan medis.

Pakar toksikologi Jill Johnson menjelaskan, kekuatan zat tersebut jauh melampaui morfin.

"Dengan memengaruhi reseptor pada sistem saraf pusat, racun ini dapat menyebabkan kedutan otot dan kelumpuhan, kejang, detak jantung lambat, gagal pernapasan, dan akhirnya kematian," kata Johnson.

BACA JUGA:Mantan Kades di Bogor Ditusuk Pedagang Cilok Usai Salat Jumat, Polisi Beberkan Kronologinya

Neurotoksin ini sangat jarang ditemukan di alam. Zat tersebut hanya muncul dalam jumlah kecil pada spesies katak liar tertentu dan bergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi hewan itu.

Peran makanan dalam produksi racun

Para peneliti meyakini racun terbentuk melalui rantai makanan alami. Katak dari habitat berbeda menunjukkan tingkat racun yang tidak sama, sementara katak yang dibesarkan di penangkaran sama sekali tidak menghasilkan zat beracun tersebut.

Johnson menyebut metode ini sebagai cara yang sangat tidak lazim untuk meracuni seseorang.

"Menemukan katak liar di lokasi yang tepat dengan mengonsumsi makanan spesifik untuk menghasilkan alkaloid yang tepat, hampir mustahil, hampir," jelas dia.

Sejak awal, Yulia Navalnaya berulang kali menyatakan keyakinannya bahwa sang suami meninggal akibat keracunan saat menjalani hukuman di koloni penjara Arktik pada 2024.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait