Investasi Rp 188 Triliun Masuk Singapura, 15.700 Lapangan Kerja Dibuka
Ilustrasi.--Foto: Istimewa.
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Singapura menutup 2025 dengan capaian investasi aset tetap sebesar 14,2 miliar dollar Singapura atau setara Rp 188 triliun. Nilai ini berasal dari komitmen belanja jangka panjang, mulai dari pembangunan fasilitas produksi hingga pembelian mesin dan peralatan industri.
Angka tersebut naik tipis dibandingkan realisasi 2024 yang tercatat 13,5 miliar dollar Singapura. Kenaikan ini terjadi di tengah situasi global yang masih dibayangi ketidakpastian ekonomi.
Investasi yang masuk diperkirakan akan membuka sekitar 15.700 lapangan kerja dalam lima tahun ke depan, seiring dengan berjalannya proyek-proyek yang telah dikomitmenkan.
Mayoritas pekerjaan yang tercipta tergolong bernilai tinggi. Sekitar dua pertiga di antaranya menawarkan gaji bulanan kotor di atas 5.000 dollar Singapura atau sekitar Rp 66 juta.
Lapangan kerja baru ini tersebar di berbagai sektor. Sekitar 40 persen berada di sektor jasa. Sebanyak 37 persen terserap di industri manufaktur. Sisanya, sekitar 23 persen, berada di bidang penelitian dan pengembangan serta inovasi.
BACA JUGA:Pemerintah Berlakukan WFA Jelang Lebaran 2026, Ini Jadwal dan Aturannya
Otoritas pengembangan ekonomi Singapura menyebutkan, sebagian besar posisi tersebut ditujukan bagi kalangan profesional, manajer, eksekutif, dan teknisi. Kebutuhan tenaga kerja tidak hanya menyasar pekerja berpengalaman, tetapi juga membuka ruang bagi lulusan baru.
Dalam pemaparan kinerja tahunan, pimpinan lembaga tersebut mengatakan peluang kerja yang tercipta dirancang untuk memberikan jalur karier yang jelas dan berkelanjutan. Ia menilai proyek-proyek investasi ini dapat menjadi pintu masuk bagi tenaga kerja lokal untuk mengembangkan kompetensi baru.
“Program-program ini akan menawarkan jalur karier yang bermakna bagi para pekerja kami, terutama mereka yang memiliki keahlian yang dibutuhkan dan telah berprestasi,” ujarnya.
“Selain itu, pekerja juga akan memiliki kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru dan mengambil peran baru,” tambahnya.
Meski nilai investasi meningkat, jumlah lapangan kerja yang diproyeksikan justru menjadi yang terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Total 15.700 pekerjaan itu lebih rendah sekitar 16 persen dibandingkan proyeksi tahun sebelumnya yang mencapai 18.700 posisi.
BACA JUGA:Gelombang PHK Makin Nyata, Pekerja Perlu Tahu Hak dan Cara Klaim JKP
Manajemen lembaga tersebut menjelaskan, perusahaan kini cenderung lebih berhati-hati dalam menghitung kebutuhan tenaga kerja. Ketidakpastian global membuat banyak pelaku usaha bersikap konservatif dalam rencana perekrutan.
Selain itu, terjadi perubahan struktur di berbagai industri. Otomatisasi dan digitalisasi kian luas diterapkan, sehingga menekan kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah besar. Meski begitu, pekerjaan yang dihasilkan dinilai memiliki nilai tambah tinggi dan prospek jangka panjang yang lebih kuat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News