Alami Kekerasan Seksual, Manohara Ogah Dilabeli Mantan Istri Pangeran Kelantan
Manohara Odelia Pinot.--Foto: Instagram @manodelia
JAKARTA, PostingNews.id - Manohara Odelia Pinot kembali angkat bicara soal penyebutan dirinya sebagai mantan istri dalam sejumlah pemberitaan. Ia menilai istilah tersebut tidak tepat dan berulang kali digunakan tanpa melihat konteks peristiwa yang sebenarnya ia alami.
Penjelasan itu disampaikan Manohara menyusul surat terbuka yang ia tujukan kepada media di Indonesia. Dalam keterangannya, ia kembali menegaskan penolakannya atas label mantan istri Pangeran Kelantan yang selama ini melekat pada namanya di berbagai platform digital.
Menurut Manohara, istilah tersebut memberi kesan seolah ia pernah menjalani hubungan yang normal dan setara. Padahal, ia menyebut pengalaman masa lalunya sama sekali tidak bisa dipahami sebagai kisah asmara, apalagi pernikahan yang lahir dari kesepakatan dua orang dewasa.
Keberatan itu kembali ia jelaskan lewat unggahan terbaru di media sosial pada Selasa, 06 Januari 2026. Dalam tulisannya yang menggunakan bahasa Inggris, Manohara menyinggung cara publik dan media memaknai kekerasan seksual.
"Ketika seseorang mengalami kekerasan seksual, kita tidak menyebut mereka sebagai mantan pacar dari pelakunya," tulis Manohara.
BACA JUGA:AS Umumkan Ambil Alih Minyak Venezuela, Dana 47 Triliun Akan Dikelola Trump
Kita tidak membingkai kekerasan seksual sebagai sebuah hubungan asmara. Kita tidak mengubah kekerasan menjadi cerita suka sama suka. Logika yang sama berlaku di sini," lanjutnya.
Manohara lalu menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi saat dirinya masih sangat muda. Ia menyebut usianya kala itu baru 15 tahun, sementara pria yang terlibat sudah berusia 30-an.
Dalam kondisi tersebut, ia menegaskan tidak pernah ada hubungan yang bisa disebut pacaran atau persetujuan.
"Saat itu saya berusia 15 tahun. Pria yang terlibat berusia 30-an. Tidak ada pacaran, tidak ada hubungan, dan tidak ada persetujuan. Apa yang terjadi adalah paksaan," ujarnya.
Karena itu, ia merasa penyebutan mantan pasangan justru menyesatkan. Istilah tersebut, menurut Manohara, membuat seolah-olah ada hubungan timbal balik, padahal yang terjadi adalah kekerasan.
"Menyebut korban sebagai “mantan pasangan” dari orang yang menyakiti mereka tidak membuat situasi tersebut menjadi lebih sopan atau lebih bisa diterima secara budaya," katanya.
BACA JUGA:China Bongkar Sisi Rapuh Venezuela yang Berujung Penangkapan Maduro
"Sebutan itu justru membuatnya tidak akurat. Lebih buruk lagi, hal itu mengalihkan fokus dari kejahatan yang terjadi dan malah membebankannya kepada sang anak," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News