POSTINGNEWS.ID --- Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang menghadapi tantangan besar memasuki perjalanan organisasi pada abad keduanya. Momentum tersebut dinilai tidak cukup hanya menghasilkan keputusan organisasi atau pergantian kepemimpinan secara rutin lima tahunan. NU justru didorong memikirkan masa depan pesantren dan kualitas sumber daya manusia menghadapi perubahan global. Sob, tantangannya kini semakin kompleks karena teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi global, dan algoritma digital. Pandangan tersebut disampaikan pakar komunikasi sekaligus konsultan branding Gus Ipang Wahid dalam forum pesantren nasional. Ia menilai pemilihan Jombang sebagai lokasi Muktamar memiliki pesan historis sekaligus strategis bagi perjalanan NU. BACA JUGA:Koalisi Tiga Tokoh NU Dinilai Berpotensi Ubah Arah Muktamar, Ini Faktor yang Jadi Penentunya Jombang memiliki hubungan historis kuat dengan NU karena menjadi salah satu tanah kelahiran organisasi tersebut. Kawasan ini juga lekat dengan jejak perjuangan para pendiri NU dan tradisi intelektual pesantren. Namun, Gus Ipang menilai kembali ke Jombang tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai nostalgia terhadap sejarah. Menurutnya, Jombang harus menjadi titik pijak untuk menghadapi tantangan baru pada abad kedua NU. Seratus tahun lalu para kiai merespons tantangan zamannya dengan cara yang sesuai kondisi masyarakat ketika itu. Kini, generasi NU menghadapi persoalan berbeda yang sebagian justru hadir melalui teknologi dan perubahan sosial. Karena itu, pendekatan organisasi juga dinilai perlu berkembang mengikuti karakter tantangan zaman yang semakin kompleks.Mengapa Muktamar NU ke-35 Dinilai Menjadi Momentum Penting?
Muktamar NU ke-35 didorong melahirkan blueprint pesantren agar santri menguasai agama, AI, sains, teknologi, ekonomi global dan diplomasi.-dok-
Kategori :