Lebih dari 28 Juta Warga Berpotensi Alami Gangguan Jiwa, Ini Temuan Pemerintah

Selasa 20-01-2026,08:51 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Jumlah warga Indonesia yang mengalami gangguan kesehatan jiwa diperkirakan mencapai puluhan juta orang. Angka itu mengacu pada rasio global yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyebut persoalan kesehatan jiwa di Indonesia masih seperti fenomena gunung es. Kasus yang muncul ke permukaan dinilai belum menggambarkan kondisi sebenarnya di masyarakat.

“Tadi juga ditanya, ini yang the tip of the iceberg. Karena WHO bilang, masalah kejiwaan itu satu dari delapan sampai satu dari sepuluh penduduk,” ujar Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin 19 Januari 2026.

Ia menjelaskan, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mendekati 280 juta jiwa, maka secara hitung-hitungan kasar sedikitnya ada 28 juta orang yang berpotensi mengalami gangguan kejiwaan.

“Jadi kalau Indonesia 280 juta, ya minimal 28 juta tuh punya masalah kejiwaan. Bisa itu depresi, disorder atau anxiety disorder, yang lebih berat ada skizofrenia, ada ADHD, ada penyakit-penyakit jiwa tuh ada banyak juga,” kata Budi.

BACA JUGA:Catat! Meskipun Sudah Bayar Iuran, 5 Operasi Ini Tetap Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

Namun, hasil pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis atau CKG belum sepenuhnya mencerminkan kondisi tersebut. Menurut Budi, angka yang muncul dari skrining masih terbilang rendah.

“Nah, kita screen hasilnya seperti ini ya. Dari yang kita screen, masih rendah sekali. Ya jadi masih rendah sekali, angkanya masih di sekitar 5, di bawah 1 persen untuk dewasa dan anak-anak 5 persen. Ya tapi dengan skrining ini kita sudah tahu,” ujarnya.

Anak dan Remaja Paling Rentan

Data Kementerian Kesehatan per 01 Januari 2026 menunjukkan lebih dari 27 juta penduduk telah mengikuti pemeriksaan kesehatan jiwa melalui program CKG.

Hasilnya memperlihatkan kelompok anak sekolah dan remaja menjadi kelompok dengan temuan gangguan mental paling tinggi. Pada kelompok ini, sebanyak 4,8 persen atau sekitar 363.326 orang terdeteksi mengalami gejala depresi. Sementara itu, 4,4 persen atau sekitar 338.316 orang menunjukkan gejala kecemasan.

Adapun pada kelompok dewasa dan lanjut usia, persentasenya lebih rendah. Gejala depresi tercatat sebesar 0,9 persen atau sekitar 174.579 orang. Sedangkan gejala kecemasan berada di angka 0,8 persen atau sekitar 153.903 orang.

BACA JUGA:Ancaman Hujan Lebat Berlanjut, BMKG Catat Aktivitas Atmosfer Menguat di Jabodetabek

Budi menilai hasil tersebut menjadi alarm awal bagi pemerintah untuk memperkuat layanan kesehatan jiwa, terutama di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Dan di halaman selanjutnya, kita juga sudah mulai menurunkan, karena jiwa itu enggak pernah ada di puskesmas tata laksananya,” kata dia.

Kategori :