Hampir seperti suku Batak, suku Gayo juga dikenal memiliki ilmu mistik yang sangat kuat, namun tidak sekuat suku Batak.
Meskipun sebagian besar masyarakat Gayo adalah pemeluk Islam, namun kehidupan yang dibarengi dengan hal-hal mistis sudah mengakar kuat dan sulit untuk melupakan masa-masa suku Gayo.
Kuatnya hubungan antara orang Gayo dengan ilmu mistik dipengaruhi oleh kuatnya kecemburuan sosial yang ada pada masa lalu di lingkungan sosial orang Gayo itu sendiri.
Di daerah-daerah yang banyak Gayos tinggal, banyak dukun atau dukun karena Gayos lebih percaya pada pengobatan alternatif daripada dokter atau rumah sakit, meskipun mereka percaya pada hal-hal mistis.
BACA JUGA:Serem! 4 Suku di Indonesia yang Kadang Bisa Dilihat Kadang Tak Kasat Mata, Gaib Deh Pokoknya
5.) Suku Kajang Amma Toa
Di pulau Sulawesi yang mayoritas dihuni oleh suku Bugis, terdapat sebuah suku yang terkenal kuat hubungannya dengan hal-hal mistis. Nama suku tersebut adalah Suku Kajang Amma Toa.
Kemampuan mistis suku ini begitu terkenal sehingga ketika Anda bertanya kepada orang-orang Sulawesi tentang suku ini, santet dan sihir adalah hal pertama yang terlintas dalam pikiran.
Hal-hal berbau mistis masih dianggap wajar bagi suku Kajang karena ideologi animisme yang begitu melekat pada suku ini.
Ideologi animisme ini masih sulit lepas dari identitas suku Kajang, meskipun mayoritas suku tersebut saat ini beragama Islam. Karena reputasi kekuatan mistis suku Kajang yang dikenal di seluruh Sulawesi, banyak orang non Kajang yang tinggal di Sulawesi akan merasa tidak nyaman jika seseorang dari suku Kajang jatuh cinta pada mereka.
Bahkan sebuah suku yang dikenal kebal senjata tajam ternyata mampu melunakkan tengkorak manusia dengan cepat dengan ilmu mistiknya.
BACA JUGA:Suku Baduy Minta Sinyal Internet Dicabut di Wilayah Mereka
6.) Suku Asmat
Tentu saja suku Asmat juga termasuk ke dalam salah satu suku yang memiliki ilmu mistis yang kuat di Indonesia.
Suku yang tinggal di Papua ini sangat mempercayai hal-hal mistis dalam kesehariannya.
Segala sesuatu yang mereka lakukan sehari-hari, mulai dari berburu, menangkap ikan, hingga menebang pohon sagu, harus dihitung dengan perhitungan tertentu, seperti halnya burung pelatuk di Jawa.