Banner Internal

HP Disita 45 Hari, Calon Manajer Koperasi Merah Putih Baru Bisa Hubungi Keluarga Dua Kali

HP Disita 45 Hari, Calon Manajer Koperasi Merah Putih Baru Bisa Hubungi Keluarga Dua Kali

Peserta pelatihan bela negara calon manajer Koperasi Merah Putih hanya bisa menghubungi keluarga satu jam setiap pekan usai evaluasi panitia.-Foto: Smart Info-

JAKARTA, PostingNews.id – Menjalani pelatihan bela negara dan manajerial ternyata bukan cuma soal latihan fisik. Bagi para calon manajer Koperasi Merah Putih, tantangan lain datang dari putusnya komunikasi dengan keluarga karena telepon seluler harus diserahkan kepada panitia selama masa pendidikan.

Pengalaman itu dirasakan Langgeena Salehane, peserta asal Pekanbaru, Riau. Selama tiga pekan mengikuti pelatihan di Satuan Pusat Pendidikan Kesehatan TNI Angkatan Darat, Jakarta Timur, perempuan berusia 23 tahun itu mengaku baru dua kali berbicara dengan keluarganya.

"Sampai sekarang telepon seluler kami masih dikumpulkan," ujar Gina saat ditemui di sela pelatihan di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026.

Program yang sebelumnya disebut latihan dasar militer kini menggunakan nomenklatur baru, yakni pelatihan bela negara dan manajerial. Meski namanya berubah, aturan mengenai penggunaan gawai masih tergolong ketat.

Sejak hari pertama pelatihan, seluruh peserta tidak diperbolehkan menggunakan telepon seluler pribadi selama 45 hari pendidikan berlangsung. Selama itu pula, satu-satunya cara menghubungi keluarga hanyalah menggunakan telepon milik pembina di satuan pendidikan.

BACA JUGA:Jokowi Keliling Bawa PSI, Puan Minta Semua Tahan Diri, Golkar Bilang Itu Hak Warga

Karena jumlah peserta cukup banyak, kesempatan menelepon pun harus bergantian. Akibatnya, dalam waktu hampir tiga pekan, Gina baru dua kali berbicara dengan keluarganya di Pekanbaru.

"Sepengetahuan saya memang tidak ada batasan berapa kali boleh menelepon. Hanya saja banyak juga yang ingin menelepon. Kasihan pembinanya kalau kami terus-menerus meminjam telepon," katanya.

Belakangan, aturan itu mulai sedikit dilonggarkan. Sejak Ahad, 28 Juni 2026, panitia memberi kesempatan kepada peserta menggunakan telepon seluler pribadi selama satu jam setiap akhir pekan.

"Baru mulai Minggu kemarin kami boleh memegang telepon seluler dari pukul delapan sampai sembilan malam setelah apel malam," ujarnya.

Bagi Gina, kesempatan berkomunikasi dengan keluarga bukan sekadar melepas rindu. Ia ingin memastikan kondisi dirinya diketahui keluarga agar mereka tidak terus-menerus diliputi rasa cemas.

Apalagi, lulusan Teknik Lingkungan Universitas Riau itu diketahui mengidap skoliosis sejak 2025. Kondisi tersebut membuatnya kerap mengalami sesak napas ketika tubuhnya terlalu lelah.

Meski begitu, Gina mengaku memahami alasan panitia membatasi penggunaan telepon seluler. Menurutnya, tanpa gawai peserta lebih mudah menjaga waktu istirahat sehingga mampu mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang cukup padat setiap hari.

"Kalau ada telepon seluler, takutnya siswa tidur terlalu malam sehingga bangunnya terlambat. Jadi menurut saya, dengan telepon seluler dikumpulkan, kami justru menjadi lebih disiplin," katanya.

Komandan Satuan Pendidikan SPPI Pusdikkes TNI AD Letnan Kolonel Korps Kesehatan Militer Said Jauhari mengatakan kebijakan memberikan akses telepon seluler selama satu jam setiap pekan merupakan hasil evaluasi panitia setelah adanya insiden meninggalnya sejumlah calon manajer koperasi.

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan arahan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyusul meningkatnya kekhawatiran keluarga peserta.

"Setiap minggu kami memberikan kesempatan menggunakan telepon seluler selama sekitar satu jam agar peserta dapat berkomunikasi dengan keluarganya," kata Jauhari.

Ia menjelaskan jadwal penggunaan telepon seluler dibuat fleksibel menyesuaikan kegiatan di lapangan. Namun, panitia memastikan kesempatan itu tetap diberikan setiap pekan.

Jauhari menegaskan pembatasan penggunaan gawai tetap diperlukan agar peserta tidak kehilangan fokus selama menjalani pendidikan.

Menurutnya, karakter peserta yang mayoritas berasal dari Generasi Z membuat pengawasan penggunaan telepon seluler menjadi bagian penting dalam proses pelatihan.

"Sekarang pesertanya mayoritas Generasi Z. Kalau terus memegang telepon seluler, konsentrasi belajarnya berkurang karena lebih banyak bermain telepon seluler," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait