Delegasi Barat Kompak Minggat dari Sidang PBB, Wamenlu Rusia Bicara dengan Kursi Kosong
Sidang PBB.-Foto: AFP.-
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Delegasi sejumlah negara Eropa melakukan aksi boikot terhadap Rusia dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa, 24 Februari 2026. Langkah itu menjadi penanda solidaritas terhadap Ukraina tepat empat tahun sejak invasi Moskwa dimulai.
Aksi tersebut berlangsung ketika perwakilan Rusia menyampaikan intervensi dalam sidang Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Sejumlah negara Barat memilih tidak berada di ruangan. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Dmitry Lyubinsky, akhirnya berbicara di hadapan kursi-kursi delegasi yang banyak kosong.
Dalam pidatonya, Lyubinsky menyerang balik sikap negara-negara Eropa. Ia menilai benua itu justru memicu agresi dan memperkeruh konflik. Menurut dia, Eropa “hari ini menjadi pembawa bendera agresi historis”. Ia juga menyinggung apa yang disebutnya sebagai “Russophobia” di kawasan tersebut.
“Bagi rakyat Rusia, sangat menyakitkan melihat bagaimana negara-negara Barat menggunakan rakyat Ukraina, yang merupakan rakyat yang sangat dekat dengan kita,” kata Lyubinsky, dikutip dari kantor berita AFP Rabu, 25 Februari 2026.
Boikot serupa terjadi dalam Konferensi Pelucutan Senjata yang juga digelar PBB pada hari yang sama. Saat Duta Besar Rusia untuk Jenewa, Gennady Gatilov, berpidato, delegasi dari berbagai negara kembali mengosongkan kursi mereka.
BACA JUGA:Generasi Muda Beralih ke Militer, Perekrutan AS Capai Level Tertinggi 15 Tahun
Negara-negara yang ikut meninggalkan ruangan antara lain Ukraina, Polandia, Inggris, Kanada, Australia, Romania, Jerman, Jepang, Italia, Perancis, dan Selandia Baru. Puluhan delegasi berdiri di luar ruang sidang sambil membentangkan bendera besar Ukraina ketika Gatilov berbicara.
Para delegasi baru kembali ke kursi masing-masing setelah pidato Rusia berakhir. Aksi solidaritas serupa juga dilakukan hampir 50 orang di luar ruang Dewan HAM PBB.
Dukungan untuk Ukraina
Di sela rangkaian sidang Dewan HAM, Ukraina menggelar pertemuan yang dihadiri banyak delegasi. Para menteri luar negeri dari sejumlah negara Eropa menyampaikan dukungan politik kepada Kyiv seiring perang skala penuh Rusia memasuki tahun kelima.
Menteri Luar Negeri Moldova Mihai Popsoi, yang berbicara mewakili 44 negara, menyoroti dampak perang yang terus meluas terhadap warga sipil Ukraina.
“Mustahil menemukan kata-kata untuk kengerian yang ditimbulkan Rusia terhadap Ukraina,” ujarnya.
BACA JUGA:Trump Bakal Serang Iran, Tunggu Sinyal Terakhir dari Perundingan Jenewa
Ia menambahkan bahwa Rusia tampak bertekad menghapus kehidupan sipil dengan konsekuensi besar bagi anak-anak Ukraina. Pernyataan senada disampaikan Menteri Luar Negeri Islandia Thorgerdur Katrin Gunnarsdottir yang menyoroti penderitaan masyarakat sipil selama konflik berlangsung.
“Deportasi dan pemindahan paksa anak-anak Ukraina adalah salah satu kejahatan paling mengerikan dalam perang Rusia,” katanya. “Jika Rusia berhenti berperang hari ini, perang ini akan berakhir.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News