Donald Trump Serang Netflix dan Warner Bros Discovery, Industri Hiburan Amerika Mulai Gelisah
Kolase.--Foto: Istimewa. Diolah.
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kegelisahan di industri hiburan Amerika. Kali ini, sorotannya tidak berhenti pada isu konten, melainkan menyasar langsung perusahaan streaming dan konglomerasi media besar yang dinilai berseberangan secara politik dengannya.
Tekanan tersebut diarahkan antara lain kepada Netflix dan Warner Bros. Discovery. Trump menunjukkan sikap konfrontatif terhadap perusahaan hiburan yang menurutnya tidak selaras dengan pandangan politik yang ia usung.
Laporan Variety pada 23 Februari menyebutkan Trump secara terbuka menyerang Netflix karena keberadaan Susan Rice dalam jajaran dewan direksi perusahaan itu. Rice dikenal sebagai mantan penasihat keamanan nasional pada pemerintahan Barack Obama dan selama ini menjadi figur yang kerap dikritik Trump. Kehadirannya di Netflix dianggap Trump sebagai persoalan politik.
"Netflix harus SEGERA memecat Susan Rice yang rasis dan gila karena membenci Trump, atau mereka harus terima konsekuensinya. Dia tidak punya bakat atau keahlian sama sekali-murni hanya antek politik! KEKUASAANNYA SUDAH HILANG, DAN TIDAK AKAN PERNAH KEMBALI. Berapa dia dibayar, dan untuk apa??? Terima kasih atas perhatiannya mengenai masalah ini. Presiden DJT" tulisnya di media sosial, dikutip Selasa 24 Februari 2026.
Dalam pernyataannya, Trump juga memberi peringatan bahwa pemerintah dapat meninjau ulang kebijakan regulasi, bahkan membuka kemungkinan pencabutan hak operasional tertentu apabila Netflix tetap dianggap menjadi alat politik lawan.
BACA JUGA:Upaya Penerobosan di Rumah Donald Trump Berujung Tembakan, Pria Bersenjata Tewas di Tempat
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran sejumlah kalangan. Mereka menilai retorika semacam ini berpotensi membuka ruang penggunaan instrumen negara untuk menekan perusahaan swasta, terutama ketika pimpinan perusahaan memiliki sikap politik yang tidak sejalan dengan pemerintah.
Kritik Trump tidak berhenti pada Netflix. Petinggi Warner Bros. Discovery ikut masuk dalam sasaran. Ia menyoroti cara studio besar mengelola narasi berita dan produksi hiburan yang dinilai tidak objektif.
Trump bahkan memberi sinyal bahwa proses merger maupun kesepakatan bisnis besar di masa depan bisa menghadapi hambatan apabila perusahaan-perusahaan tersebut tidak melakukan perubahan sikap. Pernyataan ini menambah kekhawatiran pelaku industri mengenai kemungkinan tekanan politik terhadap keputusan bisnis korporasi media.
Rangkaian polemik ini bermula setelah Susan Rice tampil dalam podcast Preet Bharara. Dalam percakapan tersebut, Rice menyinggung relasi antara kepentingan korporasi, firma hukum, dan media dengan dinamika politik saat ini.
"Ini tidak akan berakhir baik bagi mereka. Bagi pihak-pihak yang memutuskan untuk bertindak demi kepentingan pribadi yang sangat sempit-yang saya garis bawahi sebagai kepentingan pribadi jangka pendek-dan memilih untuk 'berlutut' (tunduk) kepada Trump, saya rasa mereka sekarang mulai menyadari, 'Tunggu dulu, ini tidak populer. Trump itu tidak populer.'"
BACA JUGA:Tips 'Power Nap' 15 Menit: Rahasia Tetap Fokus Kerja Meski Kurang Tidur Ketika Puasa!
Ia juga menambahkan bahwa "kemungkinan besar akan ada pergerakan ke arah yang berlawanan, dan mereka bakal ketahuan tidak siap sama sekali (tertangkap basah). Mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh pihak-pihak yang menentang Trump dan berhasil menang di kotak suara nanti."
Pernyataan tersebut dipandang sebagai kritik terbuka terhadap perusahaan dan institusi yang dinilai memilih bersikap aman dengan mengikuti tekanan politik Trump. Sindiran itu diduga turut menyasar sektor hiburan dan dunia hukum yang dianggap berupaya menyesuaikan diri demi kepentingan bisnis jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News