Riset Terbaru Bongkar Mitos Diet Intermittent Fasting, Peneliti Justru Temukan Hal Berbeda
Menu makan diet-Ilustrasi-Pixabay
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Diet intermittent fasting yang kerap dianggap ampuh memangkas berat badan ternyata tidak menunjukkan keunggulan berarti dibandingkan pola diet biasa. Kesimpulan ini muncul dari kajian ilmiah terbaru yang menelaah berbagai penelitian mengenai metode puasa populer tersebut.
Tinjauan sistematis yang dipublikasikan dalam Cochrane Database of Systematic Reviews pada 16 Februari 2026 menilai efektivitas sejumlah pola makan berbasis pembatasan waktu.
Hasilnya menunjukkan penurunan berat badan yang terjadi relatif kecil dan belum memenuhi standar manfaat kesehatan yang signifikan.
Rata-rata peserta penelitian hanya mengalami penurunan berat badan sekitar 3 persen. Dalam praktik kedokteran, penurunan setidaknya 5 persen umumnya baru dianggap cukup untuk memberikan dampak kesehatan yang jelas.
Menggabungkan data lintas benua
Kajian tersebut merangkum 22 uji klinis acak yang melibatkan 1.995 orang dewasa dari berbagai kawasan dunia, mulai dari Eropa hingga Amerika Selatan. Para peserta menjalani beragam variasi intermittent fasting.
BACA JUGA:Jangan Asal Panaskan! Ini Kode Plastik yang Aman untuk Dimasukan ke Microwave
Metode yang diteliti meliputi puasa selang-seling, pola 5 banding 2 yang membatasi asupan makanan selama dua hari dalam sepekan, serta pengaturan jam makan harian yang hanya memperbolehkan konsumsi makanan dalam rentang waktu tertentu.
Dr Luis Garegnani, penulis utama penelitian sekaligus Direktur Cochrane Associate Centre di Rumah Sakit Italia Buenos Aires, menilai metode ini tidak dapat diposisikan sebagai jalan pintas menurunkan berat badan.
“Intermittent fasting bukan solusi ajaib, tetapi bisa menjadi salah satu pilihan untuk pengelolaan berat badan,” ujarnya.
Ia menjelaskan hasil yang diperoleh tidak jauh berbeda dari pendekatan diet konvensional yang selama ini dianjurkan.
“Metode ini tidak terlihat jelas lebih baik, tetapi juga tidak lebih buruk,” kata Garegnani.
BACA JUGA:Perawat Muda di India Meninggal akibat Virus Nipah, Tingkat Kematian Capai 75 Persen
Peneliti juga tidak menemukan bukti kuat bahwa pola makan tersebut membawa peningkatan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan strategi diet lain.
Popularitas dipicu berbagai klaim manfaat
Di tengah temuan yang moderat, intermittent fasting tetap diminati. Pola makan ini sering dikaitkan dengan berbagai klaim tambahan, mulai dari peningkatan metabolisme hingga potensi memperlambat proses penuaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News