Rusia Bantah Keras Tuduhan Racuni Navalny hingga Tewas, Sebut Barat Jalankan Kampanye Informasi
Presiden Rusia, Vladimir Putin.--Kremlin.ru
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Bantahan pemerintah Rusia kembali menguat setelah negara-negara Barat menuding adanya penggunaan racun langka dalam kematian pemimpin oposisi Alexei Navalny.
Moskow menilai tuduhan tersebut sebagai bagian dari narasi politik yang sengaja dibangun untuk menekan Rusia di panggung internasional.
Juru bicara Kremlin Maria Zakharova menyatakan seluruh pernyataan yang berkembang di Barat tidak lebih dari kampanye informasi. Menurutnya, tuduhan mengenai racun dalam kasus Navalny bertujuan mengalihkan perhatian dari persoalan yang dihadapi negara-negara Barat sendiri.
Pernyataan itu disampaikan setelah Inggris dan sejumlah sekutu Eropa mengumumkan hasil analisis terhadap sampel material dari tubuh Navalny. Analisis tersebut disebut mengarah pada racun langka yang berasal dari zat alami katak panah beracun, yang kemudian memicu tudingan baru terhadap Kremlin.
Rusia sejak awal menolak keterlibatan apa pun dalam kematian tokoh oposisi tersebut. Pemerintah menegaskan bahwa berbagai klaim yang muncul tidak didasarkan pada bukti hukum yang dapat diuji secara terbuka.
BACA JUGA:Kematian Pemimpin Opsisi Rusia Memanas, Diduga Dibunuh Pakai Racun Langka dari Katak Panah
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya juga menanggapi kematian Navalny dengan pernyataan singkat. Ia mengatakan bahwa kepergian seseorang selalu merupakan peristiwa yang menyedihkan, tanpa menyinggung tuduhan peracunan yang berkembang di luar negeri.
Versi resmi pemerintah Rusia menyebut Navalny meninggal akibat gangguan kesehatan mendadak saat menjalani hukuman di koloni penjara Siberia. Menurut laporan otoritas setempat, pria berusia 47 tahun itu sempat berjalan di area penjara sebelum merasa tidak enak badan.
Ia kemudian pingsan dan tidak pernah sadar kembali. Otoritas Rusia menyatakan tim medis telah memberikan pertolongan, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan.
Di sisi lain, tuduhan dari negara-negara Barat terus menguat. Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyebut Rusia memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menggunakan racun tersebut saat Navalny berada dalam tahanan.
"Rusia memandang Navalny sebagai ancaman," kata Cooper dalam acara tersebut, dikutip dari BBC, Minggu 15 Februari 2026.
BACA JUGA:Miliarder Ramai-Ramai Kabur, Zuckerberg Resmi Tinggalkan California
"Dengan menggunakan racun semacam ini, negara Rusia menunjukkan alat-alat keji yang dimilikinya dan ketakutan luar biasa yang dimilikinya terhadap oposisi politik," tambahnya.
Bagi Moskow, pernyataan semacam itu justru memperlihatkan politisasi kasus yang belum memiliki kesimpulan hukum internasional. Pemerintah Rusia menilai tuduhan yang terus diulang berpotensi memperkeruh hubungan diplomatik yang sudah tegang antara Rusia dan negara-negara Barat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News