Cara Trump Demi Bisa Kuasai Greenland, Disebut Ingin Suap Warga dengan Rp1,6 Miliar
Donald Trump berencana memberikan uang kepada penduduk Greenland.--Foto: Vijesti
JAKARTA, PostingNews.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memunculkan gagasan kontroversial terkait masa depan Greenland. Ia secara terbuka menyatakan keinginannya agar wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark itu beralih ke bawah kendali Washington.
Bahkan, pemerintahan Trump tengah mengkaji opsi memberikan uang tunai kepada penduduk Greenland sebagai bagian dari upaya tersebut.
Dalam sejumlah pembahasan internal, pemerintahan Trump mempertimbangkan skema pembayaran langsung kepada warga lokal dengan nilai ribuan hingga puluhan ribu dolar per orang.
Rencana itu dimaksudkan untuk mendorong Greenland melepaskan diri dari Denmark dan bergabung dengan Amerika Serikat. Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi geopolitik Washington di kawasan Arktik.
Sejumlah pejabat Amerika Serikat, termasuk lingkaran penasihat Gedung Putih, mendiskusikan besaran kompensasi yang berkisar antara 10.000 hingga 100.000 dolar AS untuk setiap penduduk.
BACA JUGA:Sederet Aset Kekayaan Yaqut Cholil, Kini Resmi Jadi Tersangka Korupsi Kuota Haji
Dengan populasi Greenland yang diperkirakan sekitar 57.000 jiwa, total anggaran yang dibutuhkan berada pada rentang lebih dari setengah miliar dolar hingga mendekati 6 miliar dolar AS.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan bahwa rencana pembelian Greenland dinilai selaras dengan kepentingan strategis Amerika Serikat. Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Rabu, 07 Januari 2026, ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukanlah wacana baru dalam sejarah kebijakan luar negeri Washington.
"Akuisisi Greenland oleh Amerika Serikat bukanlah ide baru," kata Leavitt.
Dalam beberapa hari terakhir, pembahasan di internal pemerintahan disebut semakin intens. Opsi pemberian kompensasi dalam jumlah lebih besar kepada warga lokal turut dipertimbangkan seiring meningkatnya perhatian Washington terhadap dinamika keamanan global di kawasan Arktik.
"Presiden telah sangat terbuka dan jelas kepada Anda semua dan dunia bahwa ia memandang hal itu sebagai kepentingan terbaik Amerika Serikat untuk mencegah agresi Rusia dan Tiongkok di wilayah Arktik," katanya.
BACA JUGA:Menghitung Harga Greenland yang Harus Dibayar Donald Trump
Sejalan dengan itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan rencananya untuk bertemu dengan mitranya dari Denmark dalam waktu dekat. Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas status Greenland dan berbagai isu strategis yang menyertainya.
Trump sendiri telah lama menyuarakan pandangan bahwa Amerika Serikat perlu menguasai Greenland. Ia kerap mengaitkan posisi pulau tersebut dengan kepentingan pertahanan nasional, terutama karena cadangan sumber daya mineralnya yang dinilai krusial bagi pengembangan teknologi militer.
Selain itu, Trump berulang kali menegaskan bahwa Belahan Barat seharusnya berada dalam lingkup pengaruh geopolitik Washington.
Pada akhir pekan lalu, Trump kembali menegaskan pandangannya kepada wartawan. Ia menyebut Greenland berada di tengah aktivitas kapal-kapal Rusia dan Tiongkok. Menurutnya, Denmark tidak memiliki kapasitas pertahanan dan pengawasan yang memadai untuk memenuhi standar keamanan nasional Amerika Serikat.
"Ini sangat strategis," kata Trump kepada wartawan di Air Force One.
Trump menilai kebutuhan Amerika Serikat atas Greenland berangkat dari pertimbangan keamanan nasional. Dalam pandangannya, Denmark dipersepsikan tidak mampu menjamin stabilitas kawasan tersebut di tengah meningkatnya ketegangan global.
Namun, sikap Washington itu mendapat penolakan tegas dari Denmark dan para pemimpin Eropa. Pemerintah Denmark menegaskan bahwa Greenland tidak untuk diperjualbelikan. Sejumlah pejabat Eropa juga mengkritik keras wacana tersebut karena dinilai merusak kepercayaan antara Amerika Serikat dan Denmark sebagai sesama anggota NATO.
Dalam kerangka perjanjian pertahanan aliansi tersebut, negara-negara anggota berkewajiban saling membantu jika terjadi serangan militer, sehingga gagasan pengambilalihan wilayah menjadi isu yang sangat sensitif.
Penolakan paling keras datang dari pemimpin Greenland sendiri. Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen, menyampaikan keberatannya secara terbuka melalui media sosial.
"Ini sudah cukup. Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi isyarat. Tidak ada lagi fantasi tentang aneksasi," tulis Nielsen dalam sebuah unggahan Facebook pada hari Minggu, menanggapi pernyataan Trump terkait akuisisi pulau itu.
Beberapa hari kemudian, Nielsen kembali menegaskan posisinya. Ia menyatakan bahwa Greenland akan tetap menjadi bagian dari Denmark, terlepas dari berbagai upaya atau tekanan yang datang dari luar.
"Negara kami bukanlah sesuatu yang dapat Anda ingkari atau ambil alih hanya karena Anda menginginkannya," jelasnya.
Nielsen mendorong Amerika Serikat untuk menempuh jalur dialog yang saling menghormati. Ia meminta agar pembicaraan dilakukan melalui mekanisme diplomatik dan politik yang telah tersedia, termasuk forum-forum kerja sama yang selama ini menjadi dasar hubungan antara Greenland, Denmark, dan Amerika Serikat.
"Dialog tersebut harus dilakukan dengan menghormati fakta bahwa status Greenland berakar pada hukum internasional dan prinsip integritas teritorial," tutup Nielsen.
Secara geografis, Greenland merupakan bagian dari benua Amerika Utara. Namun, secara politik dan budaya, wilayah ini memiliki keterkaitan erat dengan Eropa karena statusnya sebagai negara otonom dalam Kerajaan Denmark. Posisi unik ini menjadikan Greenland berada di persimpangan kepentingan geopolitik global.
Sebagian besar daratan Greenland tertutup lapisan es permanen yang mencakup hampir 80 persen wilayahnya. Kondisi tersebut menjadikannya salah satu lanskap Arktik paling ekstrem di dunia. Meski demikian, keindahan alamnya kerap memikat perhatian, mulai dari hamparan es raksasa hingga fenomena alam khas kawasan kutub.
Sebagai pulau terbesar di dunia, Greenland juga dikenal sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk yang sangat rendah. Mayoritas penduduknya berasal dari suku Inuit yang tinggal di pemukiman kecil di sepanjang pesisir. Antarkota tidak dihubungkan oleh jalan raya, sehingga mobilitas bergantung pada transportasi laut dan udara.
Kehidupan masyarakat Greenland berjalan mengikuti ritme alam. Pada musim dingin, langit dihiasi tarian cahaya Aurora Borealis. Sementara pada musim panas, Matahari Tengah Malam menerangi wilayah itu hampir sepanjang hari.
Dalam kerangka administratif Kerajaan Denmark, Greenland tetap mempertahankan identitas budaya yang kuat dengan perekonomian yang bertumpu pada sektor perikanan serta jalur transportasi udara dan laut sebagai tulang punggung aktivitas sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News