Kirim Bangkai Jadi Pola Baru, KontraS Nilai Teror Kritik Kian Dibiarkan Negara
KontraS menilai teror terhadap jurnalis, aktivis, dan pemengaruh makin masif. Negara dinilai membiarkan pola pembungkaman kritik terus berulang.-Foto: IG @greenpeace.id-
JAKARTA, PostingNews.id — Gelombang teror belakangan ini tak lagi bergerak sembunyi-sembunyi. Ia datang terang, kasar, dan berulang. Sasarannya pun makin luas, dari jurnalis, aktivis, sampai para pemengaruh. Ancaman tak lagi sebatas kata-kata, tapi sudah berwujud kiriman bangkai hewan yang sengaja dipilih untuk menebar rasa takut.
Wakil Koordinator Bidang Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Andrie Yunus melihat pola itu sebagai sinyal pembungkaman kritik yang kian masif di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, teror tidak lagi sporadis, melainkan menunjukkan pola yang berulang dan dibiarkan.
“Tahun ini saja, bukan hanya pemengaruh, tapi mulai dari jurnalis Tempo yang dikirimi kepala babi sampai dengan bangkai tikus tanpa kepala,” kata Andrie kepada wartawan, Rabu 31 Desember 2025.
Andrie menduga, berulangnya teror tidak bisa dilepaskan dari sikap negara yang memilih diam. Pembiaran, kata dia, membuat teror terus terjadi tanpa konsekuensi. Negara dinilai gagal melindungi warganya, gagal menangkap pelaku, dan gagal membawa mereka ke pengadilan.
BACA JUGA:Tahun Baruan di Tapsel, Prabowo Ancam Cabut Izin Usaha yang Melanggar Hukum
“Teror rerus meningkat tapi negara gagal memberikan perlindungan dan kepastian hingga keadilan untuk mengungkapkan fakta-fakta teror terhadap para korban,” ujarnya.
Menurut Andrie, negara sebenarnya punya alat, sumber daya, dan anggaran untuk mencegah teror. Namun dalam praktiknya, keseriusan itu tidak terlihat. Ia menilai sikap pasif negara justru menjadi bagian dari masalah dan masuk dalam kategori pelanggaran hak asasi manusia.
“Negara melakukan pelanggaran HAM karena dia diam. Karena dia tidak melakukan pengungkapan secara serius, karena dia gagal menyeret pelaku teror ke pengadilan gitu ya. Sehingga akhirnya terjadilah impunitas terhadap pelaku teror,” kata dia.
Bagi Andrie, impunitas inilah yang membuat teror terus berulang. Tanpa pengungkapan menyeluruh, pesan yang sampai ke publik adalah satu. Pelaku aman, korban dibiarkan menanggung ketakutan sendiri. Karena itu, ia mendesak negara segera membongkar dalang di balik rangkaian teror tersebut. Bukan semata demi keadilan bagi korban, tapi juga untuk menjaga iklim demokrasi agar tidak runtuh oleh rasa takut.
BACA JUGA:Curhat ke AI Tiap Hari, Dampaknya Bikin Orang Terjebak Delusi dan Isolasi Sosial
“Aksi-aksi teror ini kan upaya untuk meredam suara kritik publik yang sudah menjadi tanggung jawabnya untuk melakukan kontrol publik terhadap kekuasaan,” ujar Andrie.
Hingga kini, Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai belum memberikan tanggapan serius perihal masifnya teror terhadappara aktivis tersebut. Pigai mengaku belum mengetahui adanya teror terhadap warga. “Saya sendiri belum tahu. Jadi bagaimana saya percaya mereka diteror? oleh siapa? Karena apa?” kata Pigaikepada wartawan, Rabu 31 Desember 2025.
Rentetan teror yang dimaksud Andrie bukan cerita tunggal. Sejumlah aktivis dan pemengaruh sebelumnya juga melaporkan kejadian serupa. Pemusik asal Aceh, DJ Donny, mengaku menerima kiriman bangkai ayam disertai surat ancaman. Pemengaruh asal Aceh, Shery Annavita, juga mengalami hal serupa. Ia dikirimi sekantung telur busuk dan mobilnya menjadi sasaran vandalisme.
Teror bahkan menyasar ke ranah kerja-kerja advokasi lingkungan. Rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik dikirimi bangkai ayam beserta pesan bernada ancaman. Teror terhadap Iqbal diduga berkaitan dengan aktivitasnya mengkritik kinerja pemerintah, terutama dalam penanganan bencana di Sumatera.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News