Menkeu Purbaya 'Ngamuk'! Bea Cukai Diancam 'Diganti' SGS & Diawasi AI Jika Masih Bobol Barang Ilegal
Purbaya Yudhi Sadewa 1200-@pyudhisadewa-Instagram
POSTINGNEWS.ID --- Lampu kuning menyala terang di kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, baru saja memberikan peringatan yang tidak main-main.
Dalam rapat di Istana Negara, Kamis (27/11) lalu, Menkeu Purbaya menyoroti masih banyaknya praktik curang seperti under-invoicing (memalsukan nilai barang jadi lebih murah) dan lolosnya barang ilegal ke Indonesia.
Tak tanggung-tanggung, jika kinerja Bea Cukai tidak membaik, pemerintah siap mengambil langkah drastis: Menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk pengawasan hingga ancaman mengembalikan wewenang pemeriksaan ke pihak swasta (SGS) seperti era Orde Baru.
Berikut 3 poin penting dari ultimatum Menkeu Purbaya yang bikin jajaran Bea Cukai ketar-ketir:
BACA JUGA:300.000 Jembatan Siap Dibangun, Purbaya Bilang Duit Ada, Tinggal Nyari Sungainya
1. Masalah Klasik: Barang Ilegal & Data "Palsu"
Purbaya mengaku gerah dengan laporan masyarakat yang menuduh adanya "permainan" di Bea Cukai. Ia menyoroti dua dosa besar yang masih terjadi:
Under-invoicing Ekspor: Nilai barang dilaporkan lebih rendah dari aslinya untuk menghindari pajak atau kewajiban lain.
Barang Ilegal Lolos: Sistem pemeriksaan gagal mendeteksi masuknya barang terlarang.
"Orang kan nuduh katanya Bea Cukai main segala macam," ujar Purbaya menyentil citra instansi tersebut.
Ia juga menyoroti perbedaan data perdagangan antara Indonesia, China, dan Singapura yang mencurigakan. Investigasi mendalam diperlukan karena banyak barang China yang transit di Singapura sebelum masuk RI, sehingga data sering dimanipulasi jika hanya melihat dari satu sisi.
BACA JUGA:IHSG Sempat To The Moon, Menkeu Purbaya Buka Kartu Soal Pemicu Euforia
2. Revolusi Teknologi: AI Siap "Berburu" Penyelundup
Zaman manual sudah lewat. Purbaya menegaskan bahwa Kementerian Keuangan akan segera beralih menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk memelototi data ekspor-impor.
Selama ini, pencocokan data dilakukan manual sehingga lambat dan rentan human error (atau kesengajaan).
"Ini masih kita kerjakan manual. Nggak lama lagi kita akan kerjakan pakai AI. Jadi akan lebih cepat," janjinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News