Nah Lo! Ramai Siswa dan Guru Mundur dari Sekolah Rakyat, Pakar Bongkar Masalah Utamanya

Ilustrasi sekolah Rakyat: Ramainya kasus siswa dan guru yang mundur dari Sekolah Rakyat rupanya menarik perhatian akademisi.--UGM
“Kalau prosesnya benar sejak awal, masyarakat akan lebih menerima,” katanya.
BACA JUGA:SPMB 2025 Kacau! Ribuan Siswa Tak Tertampung di Sekolah Negeri
Prof Lala juga menyoroti pentingnya komunikasi dialogis yang melibatkan berbagai pihak sejak perencanaan.
Pendekatan top-down yang bersifat instruktif harus diimbangi dengan model pendidikan yang membebaskan.
“Sekolah bukan cuma bangunan fisik. Harus ada pemahaman psikologis semua pihak yang terlibat. Sekolah itu tempat membangun masa depan,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa definisi "tidak mampu" harus jelas.
BACA JUGA:Pulih dari Fatty Liver, Indra Bekti Beberkan 'Rahasianya': Saya Akan Sukseskan Acara Anda!
Tidak hanya soal ekonomi, tapi juga akses dan kesiapan akademik.
Kurikulum pun harus menyesuaikan dengan potensi lokal—misalnya di wilayah perkebunan karet, ajarkan juga keterampilan industri karet.
Di wilayah pesisir, fokus pada sektor maritim.
“Dengan begitu, sekolah bisa jadi penggerak ekonomi lokal dan membentuk kemandirian siswa,” ucapnya.
BACA JUGA:Gak Perlu Mahal! Ini 5 Ide Liburan Sekolah yang Bikin Buah Hati Betah dan Bebas Gerak
Guru Harus Paham Konteks Lokal
Terakhir, Prof Lala mengingatkan bahwa kesiapan guru menjadi faktor krusial.
Guru tidak bisa hanya mengajar, tapi harus memahami konteks sosial budaya tempat mereka mengajar.
Tanpa itu, pendidikan tidak akan menyentuh dan berdampak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News