Nah Lo! Ramai Siswa dan Guru Mundur dari Sekolah Rakyat, Pakar Bongkar Masalah Utamanya

Nah Lo! Ramai Siswa dan Guru Mundur dari Sekolah Rakyat, Pakar Bongkar Masalah Utamanya

Ilustrasi sekolah Rakyat: Ramainya kasus siswa dan guru yang mundur dari Sekolah Rakyat rupanya menarik perhatian akademisi.--UGM

POSTINGNEWS.ID --- Ramainya kasus siswa dan guru yang mundur dari Sekolah Rakyat rupanya menarik perhatian akademisi.

Tak hanya soal fasilitas atau lokasi, ada masalah lebih dalam yang diungkap oleh Prof Lala M Kolopaking, Guru Besar Sosiologi Pedesaan dan Pengembangan Masyarakat dari IPB University.

Menurut Prof Lala, fenomena ini menjadi alarm penting bahwa pendekatan sosial budaya dalam perencanaan program pendidikan masih sering diabaikan.

“Program Sekolah Rakyat itu tujuannya sangat baik, ingin membantu masyarakat yang kurang mampu. Tapi seharusnya dimulai dengan pemetaan sosial budaya agar bisa menyentuh kebutuhan dan karakter masyarakat setempat,” jelasnya.

BACA JUGA:Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah Digelar Setahun Sekali, Ini Daftar Pemeriksaannya

BACA JUGA:Astagah! Belum Lama Dilantik, Bupati Kolaka Timur Dicokok KPK Usai Rakernas Nasdem

Ia menekankan bahwa masyarakat seharusnya dilibatkan sejak awal, bukan hanya dijadikan objek penerima.

Tanpa komunikasi yang dialogis, warga bisa saja merasa asing dengan kehadiran sekolah tersebut—apalagi jika sistemnya berasrama dan memisahkan anak dari lingkungan mereka.

“Kalau katanya tidak betah, bisa jadi karena anak-anak itu jauh dari budaya lokal. Mereka bisa mengalami homesick karena kurang adaptasi,” tambahnya.

Model sekolah berasrama memang dianggap cocok untuk anak-anak dari keluarga rentan di desa.

BACA JUGA:OSPEK Bebas Bullying, Ini Aturan Terbaru MPLS Tahun Ajaran Baru Sekolah 2025/2026

Namun, menurut Prof Lala, tantangan terbesarnya adalah adaptasi.

“Orang keluar dari rumah itu perlu dampingan adaptasi. Tidak bisa langsung masuk asrama tanpa persiapan sosial dan psikologis,” tegasnya.

Kunci keberhasilan Sekolah Rakyat, menurutnya, ada di proses awal—mulai dari dialog, pemetaan sosial, hingga seleksi siswa yang mempertimbangkan kondisi budaya dan psikologi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News