Makna “Aku Melihat Cahaya” dalam Peristiwa Isra Mikraj, Benarkah Nabi Melihat Allah?

Makna “Aku Melihat Cahaya” dalam Peristiwa Isra Mikraj, Benarkah Nabi Melihat Allah?

Penjelasan makna cahaya dalam perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad.--Foto: Istimewa.

JAKARTA, PostingNews.id - Apakah Nabi Muhammad melihat Allah saat Isra Miraj menjadi pertanyaan yang terus dibahas dalam kajian Islam. Isu ini tidak berhenti pada cerita sejarah kenabian. Persoalan tersebut menyentuh inti akidah tentang hubungan makhluk dengan Sang Pencipta.

Peristiwa Isra Miraj dipahami sebagai mukjizat besar. Alquran menyebut perjalanan malam itu sebagai momen ketika Allah memperlihatkan sebagian tanda kebesaran-Nya. Namun, tidak ada ayat yang secara tegas menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW melihat dzat Allah secara langsung.

Jawaban Nabi tentang Cahaya

Rujukan penting dalam pembahasan ini berasal dari hadis shahih. Abu Dzar RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Tuhanmu?” Nabi SAW menjawab, “Aku melihat cahaya.”

Jawaban tersebut menjadi dasar perenungan para ulama. Kalimat singkat itu tidak menyebutkan penglihatan terhadap dzat Allah, yang ditegaskan justru keberadaan cahaya.

Penjelasan Ulama tentang Makna Cahaya

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa cahaya yang dilihat Nabi Muhammad SAW bukanlah dzat Allah. Cahaya itu dipahami sebagai hijab keagungan-Nya.

BACA JUGA:Isra Miraj dan Misteri Waktu Malam

Penjelasan ini sejalan dengan prinsip akidah Ahlus Sunnah. Allah diyakini tidak dapat dilihat dengan mata kepala selama manusia berada di dunia. Penglihatan terhadap Allah hanya mungkin terjadi di akhirat.

Sikap Tegas Aisyah RA

Pandangan yang paling tegas datang dari Ummul Mukminin Aisyah RA. Dalam hadis shahih, ia menyatakan, “Barang siapa mengklaim bahwa Muhammad SAW melihat Tuhannya, maka sungguh ia telah membuat kebohongan besar terhadap Allah.”

Aisyah RA menguatkan pendapatnya dengan ayat Alquran yang menyebutkan bahwa Allah tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata. Ayat ini menjadi landasan kuat dalam menjaga kemurnian tauhid.

Pendapat Mayoritas Sahabat dan Ulama

Sejumlah ulama mencatat adanya perbedaan pandangan di kalangan sahabat. Namun, mayoritas sahabat dan tabi’in mengikuti pendapat Aisyah RA. Pandangan ini dinilai paling selaras dengan Alquran dan prinsip ketuhanan dalam Islam.

Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa pendapat terkuat menyatakan Nabi Muhammad SAW tidak melihat Allah dengan mata kepala. Yang disaksikan adalah cahaya dan tanda-tanda kebesaran Ilahi.

BACA JUGA:Cek Segera! 7 Link Daftar Mudik Gratis 2026 Resmi Dibuka

Imam al-Qurthubi juga menegaskan bahwa ru’yatullah hanya akan diberikan kepada orang beriman di akhirat. Dunia bukan tempat bagi penglihatan langsung terhadap Allah.

Makna Isra Miraj bagi Keimanan

Kesimpulan yang banyak dipegang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak melihat Allah SWT secara langsung saat Isra Miraj. Yang beliau saksikan adalah cahaya dan tanda kebesaran sebagai bentuk pemuliaan dan penguatan iman.

Pemahaman ini tidak mengurangi kemuliaan Isra Miraj. Justru sebaliknya, hal ini menegaskan keagungan Allah yang tidak dapat dijangkau oleh penglihatan makhluk.

Isra Miraj tetap menjadi peristiwa spiritual yang menegaskan batas antara manusia dan Tuhan. Peristiwa ini mengajarkan ketundukan, keimanan, dan kemurnian tauhid dalam Islam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait