Banner Internal

Pertamax Naik Nyaris Rp4.000, Teddy Bilang Masih Murah

Pertamax Naik Nyaris Rp4.000, Teddy Bilang Masih Murah

Teddy Indra Wijaya menyebut harga Pertamax masih lebih murah dibanding negara lain meski naik menjadi Rp16.250 per liter di tengah protes publik.-Foto: Antara-

Dalam keterangannya, Teddy menegaskan bahwa Pertamax merupakan BBM nonsubsidi sehingga harga jualnya mengikuti perkembangan pasar energi global.

“Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia,” ujarnya.

Pemerintah juga menekankan bahwa kenaikan tersebut tidak berlaku bagi BBM bersubsidi.

Menurut Teddy, harga Pertalite masih dipertahankan pada level Rp10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi tetap berada di angka Rp6.800 per liter meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan sejak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memanas beberapa bulan terakhir.

“Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan,” kata Teddy.

Meski demikian, penjelasan pemerintah muncul di tengah suasana yang tidak sepenuhnya kondusif. Pada Jumat sore hingga malam, mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Salah satu tuntutan yang disuarakan massa adalah penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Di titik inilah perdebatan soal harga BBM kembali muncul. Pemerintah melihat Pertamax sebagai produk nonsubsidi yang harus mengikuti harga pasar. Sementara sebagian masyarakat melihat kenaikan hampir Rp4.000 per liter dalam satu kali penyesuaian sebagai tambahan tekanan terhadap biaya hidup yang sudah meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Karena itu, pertanyaan yang kini muncul bukan lagi sekadar apakah Pertamax lebih murah dibanding negara tetangga. Yang lebih penting bagi masyarakat adalah apakah daya beli mampu mengikuti laju kenaikan harga energi yang terus merangkak naik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share
Seedbacklink affiliate

Berita Terkait