9 WNI Disandera Israel, MUI Sentil Keras Prabowo: BoP Jangan Cuma Jadi Pajangan Diplomasi!
MUI desak Prabowo buktikan manfaat Board of Peace usai 9 WNI ditangkap Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza.-Foto: Dok. Sekretariat Kabinet-
JAKARTA, PostingNews.id — Pemerintah Indonesia belakangan cukup percaya diri masuk ke Dewan Perdamaian atau Board of Peace bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Forum itu disebut-sebut bakal membuka ruang dialog dan membantu penyelesaian konflik global.
Tapi di tengah klaim soal diplomasi dan perdamaian itu, sembilan warga negara Indonesia justru ditangkap tentara Israel saat membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza. Pertanyaan yang muncul sederhana, kalau forum perdamaian itu memang berguna, manfaat nyatanya di mana?
Nada itulah yang keluar dari Majelis Ulama Indonesia. Ketua MUI Bidang Ukhuwah, Zaitun Rasmin, meminta pemerintah membuktikan bahwa posisi Indonesia di Board of Peace bukan sekadar kursi rapat internasional.
“Kami meminta dibuktikan bahwa Board of Peace itu ada gunanya,” kata Zaitun di Kantor MUI, Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut dia, momentum ini seharusnya dipakai Kementerian Luar Negeri untuk menguji efektivitas jalur diplomasi Indonesia. Apalagi Israel, negara yang mencegat rombongan Global Sumud Flotilla, juga berada dalam forum yang sama.
BACA JUGA:Jokowi Mau Keliling Indonesia Lagi, PSI Siap Pasang Badan
Zaitun berharap Menteri Luar Negeri Sugiono memanfaatkan komunikasi dengan negara-negara Islam lain untuk mendesak Amerika Serikat agar menekan Israel membebaskan seluruh delegasi Global Sumud Flotilla 2.0.
Desakan tak berhenti di sana. Presiden Prabowo Subianto ikut diminta turun tangan langsung. MUI mengaku khawatir proses penyelamatan yang lambat justru memperbesar risiko perlakuan buruk terhadap para WNI.
“Kami meminta bertemu Presiden Prabowo secepat-cepatnya bila masalah ini tidak terselesaikan,” ujar Zaitun.
Kasus penangkapan ini terjadi bertahap. Gelombang pertama berlangsung Senin, 18 Mei 2026. Saat itu lima WNI ditangkap militer Israel di perairan Siprus dari tiga kapal berbeda.
Di Kapal Bolarize terdapat jurnalis Republika, Bambang Noroyono. Sementara di Kapal Ozgurluk ada jurnalis TV Tempo Andre Prasetyo, fotografer Republika Thoudy Badai, dan Rahendro Herubowo. Satu WNI lain, aktivis kemanusiaan Andi Angga, berada di Kapal Josef.
Penangkapan berikutnya terjadi Selasa malam sekitar pukul 19.50 WIB. Dua relawan Dompet Dhuafa, Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu, ditahan saat berada di Kapal Zapyro.
Dua nama terakhir ialah Asad Aras Muhammad dari Spirit of Aqso dan Hendro Prasetyo, relawan SMART 171 yang berada di Kapal Kasr-1.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
