Banner Internal

Pers Dicekik Algoritma, Media Asia Tenggara Ngamuk, Big Tech Dituding Maling Konten dan Bunuh Jurnalisme

Pers Dicekik Algoritma, Media Asia Tenggara Ngamuk, Big Tech Dituding Maling Konten dan Bunuh Jurnalisme

Media Asia Tenggara protes dominasi Big Tech yang sembunyikan berita, ambil konten tanpa bayar, dan hancurkan ekosistem jurnalisme.-Foto: Fintech News Singapore-

Kalau semua terlihat sama, yang benar pun jadi ikut diragukan. Kepercayaan publik pelan-pelan ambruk.

Efek lanjutannya sudah mulai terasa. PHK di industri media meningkat, jurnalis banyak yang cabut profesi, bahkan tidak sedikit media yang akhirnya tutup. Semua ini bukan kejadian tiba-tiba, tapi akumulasi dari sistem digital yang makin berat sebelah.

Di bagian akhir, manifesto ini bukan cuma curhat. Mereka juga ngajak publik buat ikut turun tangan.

“Kami mengajak masyarakat yang peduli pada kepentingan publik untuk bekerja bersama dalam membangun ruang digital yang terbebas dari berbagai masalah internet yang dibentuk oleh platform teknologi besar.”

Seruan ini terdengar ideal, tapi juga menyiratkan keputusasaan. Media independen sadar, kalau dibiarkan, internet bukan lagi ruang publik, tapi ladang bisnis segelintir perusahaan.

Mereka juga mendorong transparansi algoritma. Biar publik tahu kenapa suatu konten muncul, dan kenapa yang lain tenggelam. Karena selama ini, algoritma bekerja seperti “tangan tak terlihat” yang diam-diam menentukan apa yang kita lihat dan apa yang kita abaikan.

Di ujung manifesto, mereka melempar satu istilah yang cukup nyentil.

“kolaborasi radikal.”

Artinya sederhana tapi berat. Media, komunitas, dan masyarakat sipil harus berhenti jalan sendiri-sendiri. Kalau tidak, pertarungan melawan dominasi perusahaan teknologi besar akan selalu timpang.

BACA JUGA:Ambang Batas DPR Mau Diutak-atik, PDIP Pilih Obrolin Dulu

Kalau diterjemahkan secara lebih jujur, ini bukan sekadar manifesto. Ini sudah seperti alarm keras.

Internet yang dulu dijanjikan membebaskan manusia, sekarang justru sedang direbut. Dan kalau tidak ada perlawanan, yang tersisa mungkin cuma satu hal. Bukan kebenaran, tapi algoritma yang menentukan apa yang layak dipercaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share