Niat Jadi Mediator Iran-Israel, Tapi Indonesia Telanjur Duduk di Kubu BoP
Pengamat UGM menilai keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace berpotensi menyulitkan peran mediator dalam konflik Iran, AS, dan Israel. -Foto: Antara-
Siti juga mengingatkan bahwa konflik antara Iran dan Amerika Serikat bukan persoalan baru yang muncul dalam waktu singkat. Hubungan kedua negara telah memburuk sejak Revolusi Iran pada 1979 dan hingga kini masih dibayangi ketidakpercayaan.
Dalam perjalanan hubungan internasional, konflik yang memiliki akar sejarah panjang seperti ini sering kali berlangsung lama dan tidak mudah diselesaikan melalui diplomasi cepat.
“Dalam pengalaman hubungan internasional, konflik seperti ini sering berlangsung sangat lama dan bisa berlanjut hingga bertahun-tahun tergantung pada dinamika kekuatan yang terlibat.”
Ketegangan terbaru memuncak setelah rudal Amerika Serikat menyerang Iran pada Sabtu, 26 Februari 2026. Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Perang pecah setelah Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan mengenai program nuklir dalam perundingan di Jenewa, Swiss, pada 26 Februari 2026.
Indonesia Tawarkan Diri Jadi Mediator
Di tengah situasi yang memanas, pemerintah Indonesia tetap berupaya membuka jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan kedua pihak yang terlibat konflik untuk menawarkan peran Indonesia sebagai mediator.
Komunikasi tersebut dilakukan melalui pembicaraan langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, serta koordinasi dengan pihak Amerika Serikat.
“Saya berkomunikasi dengan kedua belah pihak, pihak AS dan pihak Iran,” ujar Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa malam, 3 Maret 2026.
Namun hingga kini belum ada keputusan dari pihak yang berkonflik terkait tawaran tersebut. Menurut Sugiono, kedua negara masih memantau perkembangan situasi sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Kita tunggu bagaimana nanti, karena mereka mengatakan akan lihat situasinya beberapa hari dan beberapa minggu ke depan,” katanya.
Situasi ini menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, meski peluang keberhasilannya sangat bergantung pada dinamika konflik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News