Rocky Gerung Bela Alumni LPDP Soal Paspor Inggris, Patriotisme Tak Diukur dari Warna Dokumen

Rocky Gerung Bela Alumni LPDP Soal Paspor Inggris, Patriotisme Tak Diukur dari Warna Dokumen

Rocky Gerung tanggapi polemik alumni LPDP soal paspor Inggris, sebut patriotisme tak ditentukan warna dokumen kewarganegaraan.-Foto: Istimewa-

“ Jadi enggak ada yang penting sebetulnya mempersoalkan mereka yang merasa belum layak pulang ke Indonesia karena mungkin pertimbangan mereka pulang jadi ASN tapi uangnya kurang,” ujar Rocky Gerung.

Ia menilai dinamika ekonomi, profesional, dan pribadi ikut memengaruhi keputusan sebagian penerima beasiswa.

“Jadi begitu kompleks sebetulnya LPDP ini. Jadi jangan dinyatakan bahwa yang tidak pulang itu tidak patriotik,” sambung dia.

BACA JUGA:Menlu AS Klaim Terpaksa Ikut Perang Lawan Iran Karena Dipaksa Israel

Di titik ini, Rocky seolah menggeser perdebatan dari soal paspor menjadi soal sistem. Apakah negara sudah cukup menyediakan ruang dan insentif yang layak bagi talenta yang kembali.

Awal Polemik

Nama Dwi Sasetyaningtyas mencuat setelah ia mengunggah video yang memperlihatkan dokumen resmi otoritas Inggris terkait status kewarganegaraan anak keduanya. Dalam video itu, ia menyampaikan pernyataan yang kemudian memicu reaksi luas.

“I know the world seems unfair. Tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” ujarnya.

Kalimat itu dianggap sebagian warganet sensitif, mengingat Tyas merupakan penerima beasiswa LPDP yang dibiayai dari dana publik. Kritik pun mengarah pada etika dan komitmen moral penerima beasiswa negara.

Namun di luar kontroversi tersebut, rekam jejak Tyas tidak bisa diabaikan. Ia merupakan lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung. Pada 2015 ia memperoleh beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi magister Sustainable Energy Technology di Delft University of Technology, Belanda, dan menyelesaikannya dua tahun kemudian.

BACA JUGA:MPR Sentil Dewan Perdamaian Trump, Prabowo Diminta Jangan Setengah Hati Jadi Mediator

Selama masa pengabdian di Indonesia dari 2017 hingga 2023, ia terlibat dalam berbagai inisiatif sosial. Mulai dari penanaman ribuan mangrove di wilayah pesisir, pemberdayaan ekonomi perempuan, partisipasi dalam penanganan bencana di Sumatera, hingga pembangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur.

Perdebatan ini pada akhirnya bukan hanya tentang satu keluarga atau satu paspor. Ia menyentuh pertanyaan lebih besar tentang bagaimana negara memaknai patriotisme, bagaimana publik mengukur loyalitas, dan sejauh mana kontribusi harus dibatasi oleh status kewarganegaraan.

Rocky memilih menekankan satu hal. Nasionalisme tidak selalu berbentuk administratif. Kadang ia hadir dalam tindakan yang mungkin justru melampaui batas negara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait