100 Tahun Ahmadiyah di Indonesia, Suara Kemanusiaan Menggema dari Makassar

100 Tahun Ahmadiyah di Indonesia, Suara Kemanusiaan Menggema dari Makassar

Peringatan 100 tahun Ahmadiyah di Indonesia digelar di Makassar dengan pesan solidaritas kemanusiaan dan dialog lintas iman.-Foto: Dok. JAI-

JAKARTA, PostingNews.id — Makassar menjadi saksi sebuah pertemuan lintas iman yang sarat pesan kebersamaan. Pada Selasa, 10 Februari 2026, Jemaat Ahmadiyah Indonesia bekerja sama dengan komunitas Gusdurian Makassar dan Jalin Harmoni Sulawesi Selatan menggelar talkshow sekaligus bedah buku di Hotel Remcy, Makassar.

Acara bertajuk Muslim Ahmadiyah dan Indonesia 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan itu dihadiri sekitar 100 peserta. Mereka datang dari beragam latar belakang, mulai tokoh agama, akademisi, aktivis kemanusiaan, hingga perwakilan pemerintah daerah.

Kegiatan ini digelar sebagai penanda perjalanan panjang Ahmadiyah selama satu abad berada di Indonesia. Panitia ingin menjadikan momentum tersebut sebagai ajang refleksi sekaligus penguatan pesan toleransi dan persaudaraan.

Buku yang dibedah merupakan antologi testimoni dari 100 tokoh nasional. Di dalamnya terekam berbagai pandangan mengenai kiprah Jemaat Ahmadiyah dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan di Tanah Air.

Melalui kegiatan ini, Jemaat Ahmadiyah Indonesia kembali menegaskan komitmen mereka merawat kebhinekaan. Semangat itu dirangkum dalam moto yang terus digaungkan, yaitu Love for All, Hatred for None.

Jejak Kemanusiaan di Indonesia Timur

Amir Daerah Jemaat Ahmadiyah Indonesia wilayah Sulawesi Selatan, Barat, dan Tengah, Ashraf Ahmad Muhiddin, menyampaikan sambutan pembuka dengan nada optimistis. Ia menekankan bahwa kehadiran Ahmadiyah di Indonesia Timur bukan hanya soal aktivitas keagamaan semata.

Menurut Ashraf, komunitas Ahmadiyah berusaha hadir di tengah masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial. Donor mata secara rutin dan bantuan bagi korban bencana disebut sebagai contoh nyata pengabdian mereka.

“Meskipun sering menghadapi persekusi, Muslim Ahmadiyah secara konsisten memilih jalan damai dan tidak pernah membalas dengan kekerasan, meneladani akhlak Rasulullah SAW,” ujar Ashraf, dikutip dari keterangan tertulis JAI yang diterima di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.

Ia menegaskan bahwa pendekatan kemanusiaan menjadi pilihan utama. Baginya, keberagaman hanya bisa dijaga jika semua pihak mengedepankan empati dan dialog.

Pandangan kritis datang dari akademisi terkemuka Makassar, Prof. Dr. KH. Afifuddin Harissa. Pimpinan Pondok Pesantren An-Nadhlah itu menilai praktik toleransi di Indonesia sering kali belum menyentuh akar persoalan.

Menurutnya, toleransi masih terlalu sering dipahami sebatas kata-kata, bukan sebagai sikap hidup sehari-hari. Ia mendorong agar prasangka antar kelompok mulai dibongkar melalui dialog yang jujur dan terbuka.

“Agama bagi pribadi mungkin sudah selesai, tapi keberagamaan, bagaimana agama bersentuhan dengan kepentingan manusia lain belum selesai. Kita perlu menyempurnakan sikap toleransi sebagai esensi dari ajaran Islam itu sendiri,” tegas Prof. Afifuddin.

Seruan serupa disampaikan Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Qasim Mathar. Ia mengingatkan lembaga-lembaga keagamaan agar lebih berani melakukan pembaruan cara pandang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait