Pengemudi Ojol Menjerit, Program Layanan Baru Aplikasi Makin Mengancam Penghasilan
Penghasilan Ojek Online kian terancam.---Istimewa
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Kebijakan layanan berbayar yang belakangan diterapkan sejumlah aplikasi transportasi daring kian menekan penghasilan pengemudi ojek online. Skema potongan yang besar, ditambah program tambahan berbayar per perjalanan, membuat pendapatan harian para pengemudi semakin menipis.
Sejumlah pengemudi menilai perubahan sistem ini berbeda jauh dibandingkan beberapa tahun lalu. Beban kerja tetap tinggi, tetapi hasil yang dibawa pulang justru terus menyusut.
Dwi, 40 tahun, pengemudi ojek online yang biasa menunggu penumpang di kawasan Cililitan, Jakarta Timur, merasakan langsung dampaknya. Ia mengatakan aturan dan skema potongan yang berlaku sekarang jauh lebih berat dibandingkan masa awal ia bergabung sebagai pengemudi.
"Dari segi aturan, Dari segi potongan juga beda, jauh beda (dibanding dulu). Pendapatan pun juga sekarang sudah lebih parah lagi, duit turun drastis dibandingkan dulu," kata Dwi, Selasa 03 Februari 2026.
Menurut Dwi, potongan pendapatan dari aplikator kini berada di kisaran 20 persen untuk setiap layanan. Potongan itu berlaku untuk perjalanan penumpang, pengantaran barang, maupun pemesanan makanan.
"Kalau untuk driver sih, kalau yang dari aplikasi kasih ya. Tapi kan real-nya kita enggak tahu pasti ya. Itu kan kalau ke driver katanya sih dari aplikasi cuma 20 persen," ujarnya.
Selain potongan, Dwi juga menyoroti munculnya program baru bernama Hemat. Melalui program ini, pengemudi dikenai biaya tambahan setiap kali menerima pesanan.
"Itu jadi berbayar per trip. Iya, (tarifnya) antara Rp2.000 sampai Rp2.500 itu kalau enggak salah ya. Tapi saya enggak ikut daftar sih sebenarnya," kata Dwi.
Meski pihak aplikator menyebut program tersebut bersifat pilihan, Dwi menilai mekanismenya membuat konsumen lebih diarahkan untuk memilih layanan Hemat karena tarif yang lebih rendah. Akibatnya, pengemudi yang tidak ikut program tersebut berpotensi kehilangan order.
"Jadi sifatnya itu memang tidak ada paksaan dari aplikasi itu ya. Jadi kita mau ikut program dia atau enggak. Tapi kan kalaupun tidak ada paksaan, secara keseluruhan kan customer itu kan diarahkan ke Hemat," tutur dia.
BACA JUGA:Prabowo Terkaget-kaget saat Tahu MBG Jadi Jadi Bahan Studi Amerika
Keluhan serupa disampaikan Dicky, 23 tahun, pengemudi ojek online asal Cipinang, Jakarta Timur. Ia menilai potongan yang besar membuat pendapatan pengemudi tidak lagi sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan setiap hari.
"Ya dari tahun ke tahun memang besar sih potongannya. Mau di manapun juga percuma kita ke sana juga enggak bakal direspon," kata Dicky.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News