Perawat Muda di India Meninggal akibat Virus Nipah, Tingkat Kematian Capai 75 Persen
Kasus kematian virus Nipah di India capai 75 persen.--Foto: Istimewa.
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Seorang perawat muda di India meninggal dunia setelah terinfeksi virus Nipah. Perempuan berusia 25 tahun itu menjadi salah satu dari dua kasus yang dikonfirmasi di wilayah India bagian timur. Penularan diduga terjadi saat ia menjalani perawatan di rumah sakit, setelah terpapar virus yang dibawa kelelawar.
Kondisi pasien sempat kritis sebelum akhirnya meninggal. “Wanita itu yang dalam kondisi kritis, meninggal karena serangan jantung,” ujar sekretaris kesehatan setempat, Narayan Swaroop Nigam.
Kematian ini terjadi hanya beberapa hari setelah laporan kasus serupa di Bangladesh. Seorang perempuan di negara tersebut juga meninggal akibat infeksi virus Nipah, menambah kekhawatiran otoritas kesehatan kawasan Asia Selatan terhadap penyebaran penyakit zoonosis tersebut.
Mengalami gagal organ multipel
Perawat tersebut telah menggunakan alat bantu pernapasan sejak awal Januari. Kondisinya terus memburuk hingga mengalami gagal organ multipel sebelum akhirnya meninggal dunia.
Multiple Organ Failure atau Multiple Organ Dysfunction Syndrome merupakan kondisi medis akut ketika dua atau lebih organ vital berhenti berfungsi secara bersamaan. Gangguan ini membuat tubuh tidak mampu mempertahankan fungsi dasar tanpa bantuan alat penunjang hidup.
BACA JUGA:Pengakuan Mengejutkan Jeffrey Epstein, Sebut Obsesi Menikah dengan Putri Mantan Kekasihnya
Pasien bersama seorang perawat pria berusia 27 tahun yang bekerja di rumah sakit yang sama di Bengal Barat pertama kali mengalami demam pada Desember 2025.
Gejala awal berkembang cepat menjadi lebih berat, termasuk kejang, sakit kepala hebat, serta perubahan kesadaran. Keduanya kemudian dirawat di unit perawatan intensif.
Perawat pria tersebut berhasil pulih setelah menjalani perawatan intensif dan kini telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Virus dengan tingkat kematian tinggi
Virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen. Angka ini jauh melampaui tingkat fatalitas COVID-19. Meski demikian, para ahli menilai potensi virus ini memicu darurat kesehatan global relatif kecil.
Ahli penyakit menular dari East Anglia University, Profesor Paul Hunter, mengatakan virus Nipah memang tergolong infeksi serius, tetapi peluang penyebaran globalnya terbatas karena penularan antarmanusia tidak mudah terjadi.
BACA JUGA:Prabowo Tekankan Hasil Nyata Kebijakan Ekonomi Jelang Lawatan ke AS
"R0 (jumlah orang yang akan tertular virus dari satu orang yang terinfeksi) kurang dari 1,0. Tetapi, kita tidak boleh lengah karena beberapa virus dapat bermutasi, sehingga meningkatkan daya infeksi," kata dia.
Ia juga menyoroti masa inkubasi virus yang relatif panjang. Kondisi tersebut membuat upaya deteksi di pintu perbatasan menjadi jauh lebih sulit dilakukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News