Di Balik Kejahatan Seksual Jeffrey Epstein, Mimpi Mengerikan tentang Pabrik Manusia
Kekerasan Seksual dalam Kasus Jeffrey Epstein.--Foto: Istimewa.
Seorang senator Amerika Serikat, Ben Sasse, pernah mengecam kesepakatan hukum Epstein pada 2008. Ia menyebutnya sebagai “kegagalan sistem yang menjijikkan.” Pernyataan itu kembali relevan ketika dokumen terbaru dibuka ke publik.
Sejumlah tokoh global ikut terseret dalam arsip jutaan halaman tersebut. Di antaranya Pangeran Andrew, Bill Gates, Donald Trump, dan Bill Clinton.
Mereka membantah terlibat dalam tindakan ilegal. Namun, keberadaan nama-nama itu menunjukkan bagaimana Epstein menempatkan dirinya di simpul pergaulan elite global.
Penyelidik juga menyoroti kemungkinan dimensi intelijen dalam jaringan Epstein. Salah satu yang disorot adalah peran Ghislaine Maxwell, rekan dekat Epstein.
Maxwell merupakan putri dari Robert Maxwell, tokoh yang diketahui memiliki hubungan dengan badan intelijen Israel, Mossad.
Sejumlah analis menduga operasi Epstein mengikuti pola kompromat klasik. Tokoh-tokoh berpengaruh dijebak dalam situasi memalukan.
Aktivitas tersebut direkam secara tersembunyi. Rekaman kemudian digunakan sebagai alat tawar dalam negosiasi politik, ekonomi, atau keamanan.
Jika dugaan itu terbukti, maka dampak jaringan Epstein jauh melampaui kejahatan personal. Ia berpotensi menjadi instrumen manipulasi geopolitik.
Dalam skenario ini, kejahatan seksual, kekuasaan, dan intelijen bertemu dalam satu simpul yang mengancam tatanan global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News