KH Imam Jazuli: NU Harus Bangun Cara Berpikir Progresif agar Siap Hadapi Tantangan Abad Kedua

Jumat 07-08-2026,15:35 WIB
Reporter : Chalief Al Fatih
Editor : Valdie

POSTINGNEWS.ID --- Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, menilai masa depan Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah warga Nahdliyin. Postingers, menurutnya, kualitas cara berpikir atau fikroh justru menjadi fondasi utama agar organisasi mampu menjawab tantangan zaman.

Pandangan tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam bedah buku Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin yang digelar di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Menurut KH Imam Jazuli, warga NU perlu membangun identitas organisasi melalui kesadaran intelektual, pemahaman ideologi, serta semangat pembaruan. Ke-NU-an, katanya, tidak cukup hanya diwariskan melalui hubungan keluarga atau keturunan.

BACA JUGA:Ulama Mulai Mendekat ke Kekuasaan, Buya Yahya Ajak Masyarakat Doakan Prabowo karena Jadi Presiden Berat

Ke-NU-an Harus Dibangun Lewat Kesadaran

KH Imam menjelaskan bahwa menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama membutuhkan pemahaman terhadap nilai, cara berpikir, serta tanggung jawab sosial yang melekat dalam organisasi.


KH Imam Jazuli menilai masa depan NU ditentukan fikroh yang moderat, pembaruan dakwah digital, dan semangat islah untuk menghadapi abad kedua.-Dok-

Ia menilai buku yang mengulas pemikiran KH Ma'ruf Amin tersebut memberikan perspektif berbeda karena tidak berhenti pada pembahasan identitas NU. Buku itu juga mengajak pembaca memahami bagaimana menjalankan nilai-nilai ke-NU-an dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kesadaran intelektual dan ideologis menjadi bekal penting agar warga Nahdliyin mampu menghadapi perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.

BACA JUGA:Kutip Surat Ar-Ra’d Ayat 11, Prabowo Ajak Ulama-Umara Bersatu Selamatkan Bangsa

Fikroh Dinilai Menjadi Kunci Perubahan

Sob, KH Imam Jazuli menekankan bahwa berbagai persoalan umat, mulai dari kemiskinan, kebodohan, hingga keterbelakangan, tidak lepas dari pola pikir yang kurang berkembang.

Karena itu, ia mendorong warga NU membangun fikroh yang moderat atau tawassuth. Cara berpikir tersebut dinilai mampu menjaga keseimbangan antara tradisi keilmuan Islam dengan kebutuhan masyarakat modern.

Menurutnya, khazanah keilmuan Islam atau turats tetap menjadi pijakan utama. Namun, pemahamannya harus dilakukan secara kontekstual agar mampu menjawab tantangan setiap zaman.

BACA JUGA:Nahdlatul Ulama Mengharamkan Warganya Mengenyam Pendidikan di Pondok Pesantren Al Zaytun!

Teks Keagamaan Perlu Dipahami Sesuai Konteks

Pada aspek manhaj, KH Imam menilai metode memahami teks agama harus mempertimbangkan perubahan kondisi sosial masyarakat.

Ia mencontohkan perjalanan ijtihad Imam Syafi'i yang dikenal memiliki qaul qadim dan qaul jadid. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perubahan situasi dapat melahirkan pandangan hukum yang berbeda sesuai kebutuhan.

Kategori :