“Yang penting rakyat tahu bahwa peristiwa ini terjadi dan itu menjadi alarm bagi demokrasi, bahwa mereka yang peduli pada bangsa justru dibayang-bayangi oleh bahaya,” katanya.
Tiyo juga mengungkapkan alasan tidak membuat laporan polisi. Menurutnya, proses pelaporan akan menyita banyak waktu dan energi, apalagi ia mengaku telah mengalami lebih dari satu upaya pelacakan.
“Di banyak tempat, ketika saya berkeliling ke daerah-daerah, pengalamannya bermacam-macam. Kalau semuanya harus saya laporkan, terlalu banyak,” ujarnya.
Sementara itu, mengenai keberadaan BEM Fakultas Bersatu yang menyerangnya, Tiyo mengaku justru baru mengetahui aliansi tersebut setelah tudingan itu mencuat ke publik.
“Tudingan yang dilakukan oleh BEM Fakultas Bersatu itu berasal dari aliansi yang saya sendiri baru mengetahuinya,” katanya.
Setelah mencari informasi, ia mengaku memperoleh data bahwa tidak semua orang yang mengatasnamakan BEM Fakultas Bersatu berstatus mahasiswa.
“Jadi apa yang bisa dipercaya dari orang-orang yang sejak awal identitasnya saja sudah berbohong? Saya tidak pernah menampilkan apa pun yang berkaitan dengan kendaraan atau hal lain. Jadi tudingan ini, kalau memakai bahasa hukum, yang menuduh seharusnya yang membuktikan,” tegasnya.
Di penghujung pernyataannya, Tiyo kembali menegaskan bahwa polemik mengenai dirinya bukan persoalan utama. Menurutnya, perhatian publik semestinya diarahkan pada berbagai program pemerintah yang menyangkut anggaran besar dan dampaknya bagi masyarakat.
“Persoalan penting hari ini adalah program Makan Bergizi Gratis yang setiap hari menghabiskan anggaran Rp1,2 triliun, juga koperasi desa Merah Putih yang memiliki begitu banyak persoalan di tingkat akar rumput masyarakat,” pungkasnya.