JAKARTA, PostingNews.id — Kematian dokter magang Myta Aprilia Azmy mulai membuka sisi gelap dunia koas dan internship yang selama ini sering dianggap “ya memang begitu dari dulu”. Bedanya, kali ini korbannya meninggal duluan sebelum sistemnya dipertanyakan.
Kementerian Kesehatan akhirnya merilis hasil investigasi atas meninggalnya Myta, dokter muda yang sedang menjalani program magang di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi. Myta meninggal pada Jumat, 1 Mei 2026, setelah berbulan-bulan bekerja dalam ritme yang bahkan terdengar tak manusiawi.
Yang bikin miris, Kemenkes menemukan dugaan manipulasi jadwal kerja. Jadi bukan cuma sistemnya berat, tapi ada dugaan upaya “merapikan kenyataan” saat pemeriksaan dilakukan.
Pelaksana tugas Inspektur Jenderal Kemenkes Rudi Supriatna Nata Saputra mengatakan dugaan manipulasi itu dilakukan dokter pendamping berinisial J. Modusnya lewat perubahan rekap absensi dan jadwal jaga agar terlihat sesuai aturan.
“Kami menemukan adanya upaya dari pendamping untuk memanipulasi jadwal presensi kehadiran peserta internship,” kata Rudi dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
BACA JUGA:Kesempatan Emas! CPNS Bea Cukai 2026 Buka 300 Formasi, Lulusan SMA Bisa Daftar!
Padahal kenyataan di lapangan jauh dari kata normal. Dokter magang di IGD disebut bekerja dua shift dengan total 12 jam per hari. Sementara aturan Kemenkes sendiri membatasi jam kerja maksimal 8 jam sehari atau 40 jam per pekan.
Ironisnya, aturan itu justru dilanggar di lingkungan yang seharusnya paling paham soal kesehatan manusia.
Investigasi juga mengungkap Myta sebenarnya sudah sakit sejak akhir Maret 2026. Ia mengalami demam, batuk, dan pilek. Tapi bukannya dapat istirahat, ia tetap masuk jaga malam sambil mengobati dirinya sendiri.
Kondisinya makin memburuk karena nyaris tak punya waktu jeda. Bahkan pada 13 April 2026, Myta merayakan ulang tahunnya di IGD dalam kondisi terpasang infus setelah menjalani shift malam.
Kalau dibaca pelan-pelan, ini bukan lagi cerita “dokter pejuang”, tapi lebih mirip orang dipaksa terus bekerja sambil tubuhnya tumbang perlahan.
BACA JUGA:Universitas Mataram Bubarkan Nobar Pesta Babi, Mahasiswa Disuruh Nonton Bola
Dua hari kemudian, tepatnya 15 April, keluarga sempat kehilangan kontak dengannya. Myta lalu ditemukan di bawah tangga kos dalam keadaan linglung. Yang bikin dada makin sesak, dalam kondisi seperti itu pun ia masih ingin berangkat kerja.
Direktur Jenderal SDM Kesehatan Kemenkes Yuli Farianti mengungkap para dokter magang di rumah sakit tersebut nyaris tidak pernah mendapatkan hari libur.
Akhir pekan yang mestinya jadi waktu istirahat tetap diisi kunjungan pasien dan target jaga. Ada ketakutan tak tertulis yang menghantui para dokter muda itu. Kalau target tak terpenuhi, masa magang bisa diperpanjang.