Pers Dicekik Algoritma, Media Asia Tenggara Ngamuk, Big Tech Dituding Maling Konten dan Bunuh Jurnalisme

Senin 04-05-2026,11:04 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Di tengah gegap gempita Hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh pada 3 Mei 2026, sekelompok media independen Asia Tenggara justru datang bukan dengan selebrasi, tapi dengan semacam surat protes yang nadanya getir. Mereka kompak bilang satu hal yang selama ini mungkin sudah dirasakan banyak orang tapi jarang diucapkan terang-terangan. Internet, yang dulu dijanjikan sebagai ruang bebas informasi, sekarang malah jadi labirin yang menyembunyikan berita yang benar.

Media-media dari Filipina, Malaysia, Kamboja, Myanmar, sampai Indonesia ini bikin manifesto bersama. Isinya bukan basa-basi. Mereka menuding platform digital besar sengaja “mengubur” karya jurnalistik lewat algoritma yang makin susah ditebak. Akibatnya, publik makin jauh dari informasi yang sudah diverifikasi.

Kalau diringkas dengan gaya warung kopi, keluhan mereka begini. Orang cari berita di media sosial, tapi yang muncul malah konten receh, bukan laporan jurnalistik yang serius. Ketika platform seperti Meta menurunkan prioritas berita di linimasa, dampaknya bukan cuma soal traffic turun. Hubungan media dengan pembaca ikut putus pelan-pelan.

Mereka juga menyorot soal ekonomi jurnalisme yang makin compang-camping. Perusahaan teknologi raksasa bukan cuma menguasai distribusi, tapi juga data audiens dan kue iklan digital. Sampai April 2026, lebih dari 76 persen belanja iklan digital global dikuasai segelintir raksasa teknologi. Nama seperti Google dan Facebook jadi penyedot utama duit iklan yang dulu jadi napas hidup media.

Belum cukup sampai di situ, muncul pemain baru yang bikin situasi makin absurd. Teknologi berbasis AI ikut “ngeruk” konten jurnalistik tanpa bayar. Ibaratnya, kerja keras redaksi diambil, diolah, lalu dipakai ulang tanpa izin. Media cuma kebagian capek, bukan keuntungan.

BACA JUGA:Ngaku Siap Kuasai Senayan, Partai Ummat Andalkan AI karena Trauma Pemilu 2024 Belum Hilang

Dalam manifesto itu, mereka menulis dengan nada yang nggak lagi diplomatis.

“Ketika krisis atau konflik terjadi, jurnalis dan ruang redaksi berada di garis depan untuk menyampaikan informasi yang dibutuhkan publik dalam mengambil keputusan penting," tulis mereka.

Kalimat itu seperti pengingat sederhana. Jurnalisme itu kerja serius, bukan sekadar konten.

Tapi realitasnya sekarang berbeda.

“Namun saat ini jurnalis dan organisasi media di seluruh dunia terjebak dalam krisis.”

Krisis yang mereka maksud bukan cuma soal uang, tapi juga soal eksistensi. Informasi palsu, deepfake, dan konten AI yang ngawur membanjiri internet. Akibatnya, informasi yang benar malah tenggelam.

“Ini juga berdampak buruk bagi media karena informasi yang tidak dapat dipercaya menutupi informasi kredibel dan berkualitas, serta membuat masyarakat meragukan segala hal yang mereka lihat secara daring.”

BACA JUGA:Pigai Ngamuk, Amien Dituding Langgar HAM Gara-Gara Omongannya

Kalau semua terlihat sama, yang benar pun jadi ikut diragukan. Kepercayaan publik pelan-pelan ambruk.

Kategori :