Nama Sjafrie Menguat di Bursa Capres 2029, Drama Politik Era SBY–Megawati Bisa Menerpa Prabowo

Rabu 04-03-2026,16:45 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Isu kemunculan nama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam bursa calon presiden 2029 mulai memantik kekhawatiran sebagian pengamat politik. Bukan semata soal peluang elektoral, tetapi karena bayangan sejarah politik yang pernah terjadi dua dekade lalu. Pengamat politik sekaligus Direktur Lingkar Madani Ray Rangkuti melihat ada potensi pola lama terulang, sebuah situasi yang mengingatkan pada dinamika Pilpres 2004.

Ray menyampaikan kegelisahan itu dalam diskusi yang digelar DPP Indonesia Youth Congress di Hotel Tamarin, Jakarta, Senin 2 Maret 2026. Dalam forum tersebut ia menyinggung momen ketika Susilo Bambang Yudhoyono muncul sebagai rival Megawati Soekarnoputri pada pemilihan presiden 2004.

Situasinya waktu itu cukup unik. SBY masih berada di dalam kabinet Megawati sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan pada periode 2001 hingga 2004. Namun di saat yang sama, popularitasnya terus meningkat sebagai figur alternatif di luar lingkar utama kekuasaan.

Ray menggambarkan dinamika itu sebagai tragedi politik bagi Megawati. Ia menilai ada kesamaan situasi yang membuat publik kembali mengingat peristiwa tersebut.

“Apa mungkin akan terjadi tragedi 2004 yang lalu? Apa tragedi 2004 itu? seorang perwira TNI yang menjadi anggota kabinet ketika ditanya oleh Megawati, eh Ente mau maju apa enggak? ia menjawab tidak, tapi terus bergerak di bawah untuk mempopulerkan namanya,” ujar Ray.

BACA JUGA:Rocky Gerung Bela Alumni LPDP Soal Paspor Inggris, Patriotisme Tak Diukur dari Warna Dokumen

Menurut dia, Megawati akhirnya memilih langkah tegas dengan memberhentikan SBY dari jabatan Menko Polkam. Namun keputusan itu justru menjadi titik balik yang mengangkat nama SBY ke panggung nasional.

Ray menilai pemecatan tersebut malah memberikan keuntungan politik bagi SBY. Namanya semakin dikenal publik dan simpati politik bermunculan.

“Nyerah-lah Ibu mega, keluarlah pemecatan, begitu pemecatan dikeluarkan, namanya melambung tinggi dan korban politik pertama dari ibu mega. Lalu dia tangkap kesempatan bentuk partai Demokrat melaju di Pilpres 2004 melawan Mega dan ia menang,” kata Ray.

Kisah tersebut, menurut Ray, menjadi pelajaran penting dalam membaca dinamika kekuasaan di Indonesia. Figur yang berada di dalam pemerintahan tidak selalu berarti berada dalam barisan politik yang sama dalam jangka panjang.

Meski demikian, Ray mengaku tidak yakin pola yang sama akan terjadi pada Sjafrie Sjamsoeddin. Ia menilai ada faktor siklus politik yang membuat kemungkinan itu tidak mudah terulang.

BACA JUGA:Prabowo Ogah Hadir di Buka Puasa Demokrat, AHY: Katanya Kurang Enak Badan

Dalam pengamatannya, dinamika politik Indonesia kerap bergerak dalam pola dua dekade. Peristiwa 2004 terjadi sekitar 20 tahun lalu, sementara kontestasi yang dibicarakan sekarang adalah Pilpres 2029.

Karena itu ia menilai jarak waktu yang sudah mencapai seperempat abad membuat situasinya berbeda.

“Apakah kisah sama akan terjadi? Tentu tidak, sebab siklusnya sudah 20 tahun, tahun 2004 kejadian SBY, sekarang 2026 dan sekarang pertarungannya 2029. Jadi 2029 itu sudah 25 tahun dan di Indonesia siklus politik itu umumnya terjadi 20 tahunan,” ujarnya.

Kategori :